Monday, May 2, 2011

~ Ciri-ciri Wanita Ahli Syurga ~

Apakah Ciri-Ciri Wanita Syurga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang disadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.
-Page: Keluarga Sakinah

~ Hukum Muslimah Papar Wajah ~

(1) “ Perempuan yg memotong badannya sendiri dgn gunting api neraka, kerana ia memperkenalkan dirinya kpd org lain.”
Yang dimaskudkan oleh hadith tersebut ialah wanita yang mendedahkan aurat untuk tontonan umum atau wanita yang bersolek dan berhias untuk ditunjukkan kepada lelaki yang bukan mahramnya.
Oleh itu janganlah seorang wanita meletakkan gambarnya yang mendedahkan aurat ATAU berhias cantik didalam internet samada dalam frienster atau lainnya sekalipun dengan niat mencari sahabat atau merapatkan ukhuwwah.
Menyertai frienster tidak semestinya perlu menonjokan kecantikan wajah atau tubuh badan.
Menulis dengan tulisan2 yang baik juga boleh merapatkan ukhuwwah dan mengembangkan tali persahabatan diantara sesama manusia.

(2) wajah wanita adalah sebesar2 fitnah yang mengundang berbagai maksiat dan dosa.
lagipun wanita adalah fitnah trbesar bagi lelaki.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita … .”(QS. Ali Imran : 14)

(3) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan peringatan dari fitnahnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari shahabat Abu Said Al Khudri radliyallahu ‘anhu, beliau bersabda : “Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah wanita.”

(4)Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan dengan sabdanya : “Sesungguhnya wanita menghadap dalam bentuk syaithan dan membelakang dalam bentuk syaithan.”

Para wanita menyerupai syaithon karena ia sebagai penyebab timbulnya fitnah bagi laki-laki seperti pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di atas. Oleh karena itu hendaklah para wanita bertakwa kepada Allah dengan menjaga dirinya dan menjaga kaum lelaki dari fitnah yang ditimbulkan karenanya.

(5)sabda RASULULLAH S.A.W.;
Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita. (Muttafaq ‘alaihi)

(6)Jarir bin ‘Athiyyah al-Khathafi bersenandung:
Sesungguhnya indahnya mata-mata hitam wanita jelita
Telah membunuh kita dan tiada lagi menghidupkannya
Mereka pun taklukkan si cerdas hingga tiada berdaya
Sedang mereka manusia paling lemah dari ciptaan-Nya

Berdasarkan dalil2 ini dan ilmu2 yang ana belajar, jika ditanya pada saya bolehkah muslimah memaparkan gambarnya pada lelaki bukan mahram umpamanya di Friendster, facebook atau sebagainya, maka jawabnya walau menutup aurat sekalipun tidak boleh dan inilah sebaik2 jawapan. Pakai tudung atau pakai niqob juga tidak perlulah dipaparkan untuk tontonan umum. Jika benar niat kita pakai untuk Allah maka kenapa ingin pula dipaparkan pada lelaki bukan mahram? Cukuplah diletakkan gambar2 masjid atau gambar2 lain, tidak perlu paparkan kejelitaan yang kita ada ini pada bukan mahram.

Ada yang memberi alasan bahawa dipaparkan gambar dengan niat untuk kawan2 lama kenal. Maka jawabnya tidak semestinya dengan memaparkan gambar maka kawan2 lama akan kenal, mungkin ada banyak lagi prkara lain yg boleh dibuat supaya orang kenal umpamanya melalui tulisan dan sebagainya, ini semu alasan semata2 untuk membenarkan apa yang kita buat.

Wallahu’alam..-Al Azhar Addin

~ Sofiya Raudhah ~

Sofiya Raudhah
www.iluvislam.com
Dihantar oleh: bungasyurga
Editor: RosNiza Abdullah

Ufuk timur mencerah disinari jingga sang suria, kabus-kabus pagi berarak perlahan-lahan melepaskan pelukannya daripada gunung-gunung menghijau, melewati wajah sang mentari. Burung-burung bertebaran keluar dari sarang penginapannya dari celahan pintu-pintu gua, lubang-lubang bangunan lama serta dari atas dahan-dahan pokok rendang.

Raudhah sampai ke lapangan terbang seawal jam 7.30 pagi, berat kakinya untuk melangkah ke dalam, walaupun dia tahu seseorang sedang menunggunya.

“Intan, jangan bersedih, empat tahun bukanlah masa yang lama, lagipun perpisahan ini kerana ilmu. Walaupun Mesir dan Malaysia jauh beribu batu, namun ikatan persahabatan yang kita bina sejak kecil tidak akan sekali-kali terlerai. Deruan Sungai Nil semakin jelas kedengaran di telingaku, hembusan bayu Mediterranean terasa lembut menyapa tubuhku. Nil menunggu kehadiranku” Pelukannya erat sekali. Raudhah hanya menangis dibahu sahabatnya.

“Intan mengerti, namun kita tidak pernah berpisah untuk satu masa yang lama, bagaimana…” sendu Raudhah menganggu aliran suaranya.

“Benar, seseorang itu akan merasakan sesuatu yang belum pernah ia lalui sukar, tetapi apabila dia sedang melaluinya, kesukaran itu akan menjadi tabi’inya. Allah akan menjagamu disini dan Allah juga akan menjagaku di sana.” Pujuknya lembut.

“Semoga Allah juga menjaga ikatan persahabatan ini.” Kata Raudhah. Lama mereka berpelukan, akhirnya pelukan itu terpaksa dilepaskan, tangannya mengusap pipi sahabatnya dan sebentar kemudian Zahrah hilang daripada pandangannya. ....

“Assalamualaikum Muslimah, adakah Muslimah terserempak dengan Intan? Puas ana cari, namun kelibatnya tidak juga kelihatan.” Sapa Zahrah ketika terserempak dengan rakan sekelasnya, sebentar tadi dia menghadiri mensyuarat pengawas, usai perjumpaan tersebut dia kembali ke bilik darjah tetapi Intan tiada di mejanya.

“Waalaikumussalam, Oh! Tadi ana terlihat dia di dalam maktabah.” Ujar rakannya.

“Baiklah jika begitu, ana pergi dahulu, syukran.” Kata Zahrah sambil menyentuh lembut lengan rakannya dan tersenyum. Kelihatan Raudhah sedang kusyuk mencatit sesuatu di meja. Zahrah berjalan perlahan-lahan ke arahnya dengan niat untuk menyergah sahabatnya apabila dia berdiri di belakang

“Salam sahabat! Mengarang surat cintakah?” Tanya Zahrah dengan suara sedikit tinggi ke corong telinga Raudhah sambil memegang bahu sahabatnya. Raudhah yang sebentar tadi sedang khusuk menulis sesuatu, terkejut, lantas menutup tulisannya dengan kedua-dua tapak tangannya.

“Sofiya!” Raudhah menjerit kecil dan berpaling ke arah Zahrah “ Jangan serkap jarang sahaja, perlu husnuzon terhadap Intan”. Zahrah tersengih.

“Sofi bergurau sahaja, boleh Sofi tahu apa yang Intan tulis?” Pinta Zahrah sambil mengambil tempat duduk di sebelah sahabatnya. Raudhah segera menyelitkan tulisan yang dicatit di belakang sekeping photo ke dalam diarinya.

“Tiada apa-apa, hanya menulis nota sahaja” Zahrah cuba bergurau ingin merampas diarinya tetapi gagal. “Esok, keputusan STAM akan diumumkan, semoga Allah membalas segala usaha kita dengan kebaikan.” Beritahu Zahrah sambil jari jemarinya bermain-main dengan hujung kain pengalas meja.

“Insyaallah, Allah akan membalas setimpal dengan usaha yang kita lakukan dan meredhai keikhlasan kita menuntut ilmu.” Raudhah mengiakan.



Sudah hampir dua tahun Zahrah berada di Mesir, dan dia juga sedang berada di tahun ke-dua di universiti Islam Malaysia. Mereka selalu berhubungan melalui email, bertanya perihal pengajian masing-masing dan bertukar-tukar pandangan semoga fikiran akan lebih tajam hasil dari pertembungan dua kognitif, two heads are better than one.

Telefon bimbit Raudhah bergetar, satu mesej baru masuk.

“Salam anti, bagaimana pengajianmu, berjauhan denganmu semakin menggamit rindu di kalbu, alangkah indah jika kita dapat belajar di institusi pengajian yang sama, namun ana percaya, Allah ingin menguji keteguhan cinta kita.” Berbunga hatinya tatkala membaca setiap lafaz kata dari paparan mesej itu, betapa kata-kata yang lahir dari hati mampu menyentuh hati manusia yang lain.

Yusuf! Lelaki pertama yang mengoncang hatinya, menawarkan sebuah cinta yang indah, seindah bunga kemboja putih yang mekar di pagi hari. Satu metafora terhadap kesucian cinta mereka. Lelaki yang menawarkan sebuah bahtera cinta yang belayar di samudera, walau badai ganas yang datang, bahtera cinta mereka tetap utuh belayar. Hubungan cinta yang berlangsung tanpa sebarang janji pertemuan, hanya berbicara melalui telefon dan mesej tetap mampu mempertahankan ikatan cinta mereka. Salahlah manusia yang menganggap bahawa percintaan perlu disusuli dengan pertemuan muka ke muka.

“Jangan khuatir, jika kita mengikut lunas Islam, tidak melewati batas- batas agama, Insya Allah, Dia akan menolong kita. Teguhkan hati kita agar hubungan seperti ini akan berkekalan, jangan pernah terlintas unutk bertemu sebelum bernikah, kerana anta sendiri tahu yang ke-tiga adalah syaitan.” Balas Raudhah. ….

“Kakak, kenapa hati saya rasa tidak tenteram? Kenapa saya sukar untuk menangis saat mendengar qalam Allah? Kenapa sukar untuk saya menghafal al-Quran? Kenapa seakan terhijab untuk saya tafakkur alam? Kenapa saya rasa tidak juga tenang jika membaca al-Quran? Kenapa solat saya tidak khusyuk? Kenapa saya gagal untuk qiamullail? Kenapa saya sukar untuk puasa sunat? Kenapa rezeki saya tidak berkat? Kenapa hati saya selalu menangis? Kenapa ilmu yang saya pelajari hanya bertahan sehingga ke dalam dewan peperiksaan? Kenapa saya tidak terkesan dengan perjalan dakwah yang dilakukan oleh Raulullah dan para sahabat? dan kenapa saya masih gagal untuk merasai nikmat CINTA ALLAH seperti yang diceritakan oleh orang-orang alim?” Tanya Raudhah panjang kepada murobbiyahnya, Kakak Aisyah.

“Raudhah, sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda “Dalam diri manusia ada seketul daging, jika daging itu elok maka eloklah anggota yang lain, tetapi jika daging itu rosak, maka rosaklah segala angota yang lain. Sesungguhnya seketul daging itu adalah?” Murobbiyahnya memohon jawapan darinya.

“HATI!” Jawab Raudhah.

“Benar, seketul daging itu adalah hati, secara fizikal hati itu adalah jantung. jika jantung kita rosak, ia akan mengganggu perjalanan anggota badan yang lain kerana jantung bertangjawab mengepam dan menyalurkan darah dan juga oksigen ke setiap urat saraf anggota badan. Namun apa yang perlu diperhatikan adalah secara rohaninya, hati itu adalah jiwa manusia, hati yang rosak adalah hati yang di timpa penyakit- penyakit dunia, hati yang berpenyakit ini akan merebak kesetiap anggota jasad manusia sehingga anggota-anggota tersebut terdorong untuk melakukan perkara-perkara buruk yang menambahkan lagi musabab kepada penyakit hati.” Jelas murobbiyahnya panjang.

“ADAKAH HATINYA BERPENYAKIT?” Raudhah bermonolog.

“Antara musabab penyakit hati ialah KECINTAAN TERHADAP MANUSIA MELEBIHI CINTA TERHADAP ALLAH! Adakah pantas satu hati mampu menyatukan dua cinta? CINTA ALLAH dan CINTA DUNIA? Adakah berhasil esensi yang suci bercampur dengan unsur yang kotor? CINTA ALLAH dan CINTA DUNIA ini ibarat magnet negatif dan negatif atau positif dan positif. Apabila ia di dekatkan, kedua-duanya akan saling menolak dan mustahil untuk bersatu. Begitulah analogi antara dua cinta tersebut. SELAMA-LAMANYA MANUSIA TIDAK AKAN MENEMUI CINTA ALLAH SELAGI DIA MENGHAMBAKANKAN CINTANYA KEPADA MANUSIA!” Jelas Kakak Aisyah.

Hatinya terkejut. Benarkah dia telah tersilap percaturan selama ini? Adakah dia terjerat dalam dosanya sendiri hasil daripada mengikut hawa nafsunya? Adakah dia tergolong dalam golongan mereka yg membuat tipu muslihat kepada Allah? Adakah dia tergolong dalam golongan yang disebut oleh Allah sebagai hati yang berpenyakit? Adakah hatinya berpenyakit?Lantas, apakah penawarnya? ….


“Yusuf! Sesungguhnya kita tertipu oleh muslihat kita sendiri. Sesungguhnya tidak halal bagi wanita Muslimah dan lelaki Muslim menjalin cinta sebelum kahwin. Ketahuilah! Aku tidak ingin menjadi penggoda seperti Zulaikha, aku tidak ingin menambahkan fitnah dunia lagi, aku tidak ingin hatta jiwaku menjadi boneka syaitan. Sesungguhnya perlu aku akui tanpa aku perlu berselindung demi menjaga hatimu bahawa aku tidak pernah tenang mencintaimu dahulu.

Cukuplah! Janganlah kita menghalalkan perkara yang telah diharamkan oleh Allah dan Nabi, kufurlah kita akhirnya. Bertaubatlah kita! Sehingga saat ini hatiku sedih tatkala mendengar, membaca kisah-kisah mereka yang berhasil merasai nikmat cinta Ilahi sedangkan aku masih lagi terumbang ambing, terkeliru dalam pencarian cinta agung itu. Sesungguhnya Allah itu mendengar resah hati kehambaanku, disaat aku mula mengorak langkah mendekatiNya, Dia telah lama menungguku, disaatku menangis sendu kerana keinsafan dosa lalu, Dia terlebih dahulu menadah air mataku.

Betapa berdosanya aku membuang cinta-Nya yang berada di muka pintu hatiku, betapa berdosanya diriku, bertalu-talu Allah mengetuk pintu hatiku melalui wahyu agung-Nya, dengan bicara ikhlas-Nya, tidak aku buka pintu itu! berdosanya aku membiarkan Dia berdiri lama di muka pintu itu, namun Dia tetap meninggu, membujuk hatiku dengan bicara-Nya tanpa jemu, namun tidak juga aku buka pintu dan membiarkan panggilan-Nya tanpa sahutan.

Berdosanya Aku Rabbi! Sehingga suatu saat, aku terdetik ingin membuka pintu itu kerana tidak lagi kedengaran panggilan-Nya, jauh dari sudut hati, aku rindu mendengar bicara-Nya yang agung, mendengar ketukan di pintu hatiku, ketukan yang lembut, tidak menyakitkan hati. Adakah Dia telah berputus asa dengan Hati kerasku? Aku menuju ke muka pintu, perlahan-lahan ku kuak daunnya, apa yang ku lihat hanyalah satu cahaya yang tidak terungkap oleh kata, terlukis oleh pena.

Cahaya itu menerangi segenap penjuru hatiku yang gelap untuk sekian lama. Cahaya malap yang berada dalam hatiku menjadi semakin bersinar dengan limpahan cahaya itu. ketahuilah aku, Dia tidak merajuk, Dia tidak juga murka, tetapi Dia Maha Penyayang, Maha Penyabar, dan Dia masih menungguku.

Bertaubatlah kita kerana telah berlaku zalim terhadap Cinta Allah. Ketahuilah! Aku tinggalkanmu demi cintaku pada sang Rabbi."...INTAN RAUDHAH

Yusuf membaca warkah dari kekasihnya dengan hati yang berkecai. Hati lelakinya tercabar kerana cintanya ditolak mentah-mentah oleh Raudhah secara tiba-tiba tanpa sebarang perbincangan mahupun penjelasan khilaf perhubungan mereka. Adakah begini pengakhiran cinta mereka? Adakah tiada lagi cinta Raudhah untuknya? Adakah Raudhah tidak mencintainya lagi sebagaimana dia mencintainya tanpa bebelah-bagi? Bagaimana mungkin dia melupai cinta pertamanya? Dia telah bertekad untuk menyuntingnya sebagai suri hatinya saat dia mendapat tahu cintanya berbalas dahulu.

“Jika itu keputusanmu, jika tiada lagi secarik cinta untuk menampal luka di hatiku, maka sia-sia sahaja aku menagih cinta darimu. Namun seperti yang selalu aku ucapkan, jiwaku bukan jiwa berputus asa, aku akan kembali menuntut cintamu suatu hari nanti selagi kamu belum dimiliki.” Yusuf membalas email Raudhah dengan hati yang terluka. Berkali-kali dia membaca tulisan Raudhah, mencari kebenaran dari kata-katanya agar dapat memujuk jiwa yang lara. Kata-katanya benar.

“siapapun jodoh kita, telah terdahulu ditakdirkan oleh ALLAH, jodoh itu sebahagian dari keimanan kita sebagai pengikut risalah Muhammad S.A.W. Beriman dengan rukun iman yang ke-enam; qada’ dan qadar baik mahupun buruk, wajib diakui. Redhalah dengan Allah, semoga Allah juga meredhaimu.” Jelas Ustaz Makmur kepadanya suatu hari saat dia menceritakan masalah hatinya usai kelas pengajian.

“peliharalah hatimu dari cinta duniawi dengan harapan kehadiran cinta Ilahi. Dengan mencintai ALLAH, jiwamu yang terluka itu akan sembuh, hatimu yang gundah akan tenang, hati yang gelap akan benderang. Cintailah Allah kembali kerana itu fitrah setiap insani.” Akhiri ustaz Makmur sebelum masuk ke dalam keretanya.

Malam itu, diatas sejadah cinta, dengan linangan air mata, Yusuf sujud kepada Yang Esa. Lama sujudnya terasa berat dosanya, malu kepalanya untuk mendongak, terasa hina memperlakukan Dia yang menciptakannya daripada mani yang tidak berguna. Terasa sukar terhapus dosanya kerana kesombongan dalam kejahilannya memperbodohkan Tuhan, kesombongan yang tidak akan memanfaatkan mahupun memudharatkanNya. Namun dia tahu Allah akan menghapuskan dosa-dosanya kerana Sifat Maha Rahman dan PengampunNya melebihi sifat-sifat keras-Nya. Selayaknya dia memenjarakan dirnya seperti Nabi Yusuf, memenjarakan nafsunya!

Raudhah membaca balasan email dari Yusuf, kamu silap Yusuf, aku masih menyayangimu. Semoga Allah memelihara cinta kita, semoga jihad kita menjaga perasaan cinta pemberian Allah itu diredhainya. Sejak itu, kedua-duanya hanyut dalam cinta Rabb mereka. ….


Raudhah melangkah ke dalam maktabah sekolah lamanya. Pagi itu diadakan sambutan hari guru dan dia datang untuk sama-sama memeriahkan majlis berkebetulan dia sedang menghabiskan cuti semester akhirnyanya di kampung. Raudhah mengambil mengambil tempat duduk yang bertentangan dengan tingkap maktabah.

Sudah banyak berlaku pengubahsuaian terhadap struktur dalaman maktabah ini. Kenangan bersama sahabat-sahabat sewaktu di bangku sekolah menggamit memorinya. Terkadang dia tersenyum sendiri. Maktabah ini juga menyimpan banyak kenangannya bersama Sofiya.

Rindu pula hatinya terhadap temannya yang sudah empat tahun berada di bumi Nil itu. Dia mengeluarkan diarinya yang masih disimpan, jika dulu dia sukar meluahkan perasaanya dalam diari tetapi kesibukannya sebagai pelajar universiti menyebabkan dia tidak mempunyai masa untuk menulis diari.

Program pentarbiahan dan da’wah yang diikutinya semenjak dua tahun yang lalu telah banyak mengubah dirinya, mengenal kembali makna kehidupannya di bumi ini. Dia menintakan sesuatu dalam diarinya.

“salam sahabat! mengarang surat cinta lagikah?” Seseorang menegurnya dari belakang sambil memegang bahunya. Dia terkejut sambil berpaling ke belakang.

“Sofiya! Jangan ….” Lidahnya kelu. Lama dia memerhatikan susuk gadis di hadapannya yang berpurdah.

“Bagaimana Intan tahu Sofi di belakang?” Tanya Zahrah dengan tersenyum disebalik purdah hitamnya. Raudhah tergamam, adakah dia bermimpi di siang hari? Dahinya berkerut seribu.

“Jangan berkerut lagi dahi itu, Sofi rindu untuk berdakapan dengan Intan” Tangannya masih kemas memegang bahu sahabatnya. Raudhah bangkit dari duduknya, mengadap gadis berpurdah di hadapannya, akhirnya kekeliruan terlerai, senyuman terukir diwajah mereka.

“Sofiya!” Akhirnya mereka berpelukan lama, erat sekali seperti selalu, air mata mengalir kegembiran. “Bukankah penerbangan Sofiya bulan depan?” Tanya Raudhah sambil mempersilakan Zahrah duduk.

“Benar, tetapi diawalkan kerana ada urusan di sini, lagipun pengajian Sofi sudah selesai dua minggu lepas, ikutkan hati mahu menziarahi Mesir lebih lama, tetapi ummi dan baba Sofi mengajak pulang” Jelas Zahrah, tangannya mengelus lembut jari jemari Raudhah.

“Barangkali mereka rindu untuk bertemu dengan Sofiya” Sangka Raudhah.

“Bagaiman pengajian Intan di sini?” Tanya Zahrah.

“Alhamdulillah, pengajian Intan sudah selesai, sekarang sedang tunggu panggilan kerja, mungkin dua minggu lagi akan diketahui keputusannnya.” Beritahu Raudhah. Zahrah mengangguk-angguk.

“Intan, mahukah Intan dengar satu perkhabaran?” Tanya Zahrah.

“Perkhabaran apa?” Tanya Raudhah lagi.

“Sebenarnya, kepulangan Sofi lebih awal ini adalah untuk membincangkan urusan perkahwinan.” Jelasnya tersenyum.

“Sofiya akan kahwin? Dengan siapa? Bila?” Raudhah teruja.

“Insyaallah, dua bulan lagi.” Balasnya pendek.

“Dengan siapa? Khabarkan lagi.” Pinta Raudhah.

“Perkahwinan ini atas pilihan ummi dan baba Sofi. Baba hendak satukan Sofi dengan anak teman baiknya. Sofi percayakan baba, Sofi yakin dia telah memilih lelaki yang baik sebagai suami Sofi, jadi dengan keyakinan itu Sofi terima lamaran dari pihak lelaki.” Jelasnya.

“Sofi belum kenal lagi dengan lelaki itu, namanya juga tidak diketahui.” Sambung Zahrah.“

Eh! Macammana Sofiya boleh terima lamaran lelaki tersebut sedangkan Sofiya tidak tahu menahu pun asal usulnya?” Raudhah keliru dengan sikap sahabatnya.

“Intan, cukuplah baba yang mengetahui asal usulnya, nanti apabila kami telah sah menjadi suami isteri, Insyaallah semua itu akan dapat diketahui.” Zahrah cuba menenangkan sahabatnya.

“Punya fotonya?” Raudhah bertanya lagi.

“Kalau namanya tidak diketahui, apatah lagi foto untuk dimiliki” Mereka tersenyum.

“Raudhah tidak risau, masakan orang yang baik, menjaga persahabatan seperti Sofiya akan dijodohkan dengan lelaki yang fasik.” Raudhah memuji sahabatnya.

“Astaghfirullah, Sofi tidak layak untuk pujian setinggi itu, Subhannallah.” Zahrah tersipu-sipu. ….



“Salam sahabat, Subhanallah, adakah ini manusia atau bidadari dari syurga?” Gurau Raudhah saat memasuki bilik pengantin.

Zahrah kelihatan anggun sekali dengan persalinan jubah putihnya. Wajahnya disolekan dengan cantik sekali, tidak terlalu berat, tidak jua terlalu ringkas. Suasana di luar sana riuh rendah dengan suara-suara manusia, semua orang bahagia dengan pernikahan ini. Dia juga mengenakan baju kurung putih, sedondong dengan pengantin.

“Ah! Intan ini manis mulut benar.” Zahrah menafikan, mereka berpelukan.

“Nampaknya, Intan kenalah kurangkan masa bersama dengan Sofi, nanti cemburu pula suami” Gurau Raudhah lagi, hatinya gembira mengetahui sahabatnya akan berkahwin.

“Intan, walaupun Sofi sudah kahwin, kualiti persahabatan kita tidak akan berkurangan, ingat hal itu.” Zahrah memegang tangan sahabatnya erat. Raudhah mengangguk-angguk, air mata mereka menitis.

“Jangan menangis, rosak nanti solekan itu.” Raudhah menyeka air mata Zahrah.

“Sofi.” Baba Zahrah muncul dari pintu bilik. Raudhah meminta diri untuk keluar, barangkali ada sesuatu yang ingin dibicarakn oleh baba Zahrah, bicara seorang ayah dengan anak perempuannya.

“Jadi isteri yang solehah, baba telah memilih seorang lelaki yang terbaik untuk Sofi, baba yaqin anak kawan baik baba itu akan dapat membahagiakan Sofi dan menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab terhadap ana-anak Sofi nanti.” Kata babanya sambil memeluk anaknya erat.

Sementara itu, Raudhah keluar melayani tetamu yang datang, sebentar lagi rombongan lelaki akan sampai.

“Baba, Rombongan lelaki sudah sampai!” Jerit adik lelaki Zahrah dari tangga rumah.

Tetamu yang hadir bangkit menuju ke luar rumah ingin melihat pengantin lelaki. Raudhah juga tidak sabar melihat bakal suami sahabatnya. Dia menyelit ke dalam kelompok tetamu yang menjenguh ke tingkap rumah.

“Yusuf!” Hatinya terkejut.

“Yusufkah namanya?” Tanya tetamu disekelilingnya namun dia tidak dapat menjawab.

Yusuf! Sofiya! Bagaimana dapat diungkapkan perasaannya saat ini. Antara janji yang dipegangnya sejak bertahun lalu, antara kasihnya yang tidak berbelah-bagi terhadap Sofiya. Antara cintanya terhadap Yusuf, antara sayangnya terhadap Sofiya. Raudhah menahan air matanya, dia segera keluar dari kelompok tetamu tersebut, dia tidak ingin Yusuf melihatnya. Yusuf telah memungkiri janjinya. Air matanya menitis.

Dari dalam bilik, telefon Raudhah berbunyi, Zahrah yang berada berdekatan mencapai telefon bimbit sahabatnya yang terletak di dalam tas tangan Raudhah.

“Assalamualaikum.” Tetapi talian dimatikan. Zahrah terkejut. Dia meletakan kembali telefon bimbit sahabatnya, hatinya terdetik untuk mengambi buku kecil yang terselit di dalam tas tangan sahabatnya. Dia membelek-belek helaian diari Raudhah.

“Sofi! Nampak Intan?” Tanya umminya dari muka pintu. Zahrah terkejut dan meletakan kembali diari Raudhah ketempatnya.

“Ya Ummi Nab, ada apa cari Intan?” Raudhah menegur ummi Zaharah dari belakang, matanya merah akibat menangis.

“Disini kamu, temankan Sofi, Ummi Nab nak ke depan, layan bakal mertua si Sofiya ini” jelas riak kegembiraan di wajah ummi Zahrah. Raudhah mengangguk-angguk.

“Intan, tadi Sofi terbaca diari Intan” Zahrah memegang tangan Raudhah, hatinya rasa bersalah.

“Sofiya! Intan..” Raudhah terkejut, adakah Zahrah terjumpa foto Yusuf?

“Intan, Sofi minta maaf, Sofi bukan sahabat yang baik, Intan banyak meluahkan isi hati Intan di dalam diari sedangkan Sofi ini sahabat Intan, maafkan Sofi, disebabkan kesibukan Sofi menuntut Ilmu di Mesir, Sofi terlupa tentang sahabat Sofi disini.” Mata Zahrah bergenang air mata.

“Sofi…” Raudhah lega Zahrah tidak mengetahuinya.

Perlukah dia luahkan kepada Sofiya perasaannya saat ini? Antara kecewa dan bahagia, antara cinta adam dan hawa, antara cinta seorang sahabat. Jahatkah jika dia menjelaskan hal yang sebenar? Kejamkah dia terhadap Sofiya jika dikhabarkan bahawa bakal suaminya adalah lelaki yang dia puja bertahun lamanya. Lelaki yang pernah berjanji akan menuntut cintanya kembali. Raudhah menahan air matanya dari menangis.

“Jangan menangis Sofi, usah difikirkah tentang persahabatan kita hari ini. Hari ini adalah hari bahagia Sofi, jangan titiskan air mata terhadap perkara remeh sebegini. Sofi tidak bersalah.” Raudhah mencuba berlagak seperti tiada yang terjadi. ….

Yusuf segera memutuskan talian, hatinya tidak sanggup untuk mengkhabarkan kepada Raudhah tentang perkahwinannya.

“Sop! Depan Tok Kadipun sempat lagi telefon seseorang.” Tegur kawannya di sebelah.

Yusuf memerhatikan tok kadi yang duduk di hadapannya sedang berbincang sesuatu dengan bapa pengantin perempuan. Dia juga tidak mengenali siapa bakal isterinya. Hanya namanya sahaja meniti dibibir. Dia masih berharap akan terjadi keajaiban sebentar lagi. Keajaiban yang akan menyatukan dirinya dengan Raudhah.

Maafkan Yusuf, Yusuf tidak mampu menolak permintaan seorang ayah. Yusuf perlu akur dengan permintaan ayahnya yang menginginkan dia dijodohkan dengan anak perempuan sahabatnya. Katanya sejak kecil lagi mereka sudah berkira-kira untuk menjodohkan kami.

Maafkan Yusuf Raudhah, bukan niat Yusuf memungkiri janji, maafkan Yusuf hingga saat ini Raudhah belum mengetahui sebentar lagi Yusuf akan menjadi suami orang. Hatinya dirudum kekecewaan. Kecewa tidak berjodoh dengan Raudhah, kecewa telah memungkiri janjinya.

Tangannya sedikit menggigil saat Tok Kadi menjabat tangannya dengan erat.

“AKU TERIMA NIKAHNYA SOFIYA ZAHRAH BINTI ABDUL MUNSYI DENGAN MAS KAHWIN 88 RINGGIT TUNAI!” Antara lega dan sedih itulah yang dirasakan Yusuf saat itu. “Sah?” Tanya Tok Kadi kepada saksi “Sah!” ….

Dari kamar pengantin, Zahrah menitiskan air mata kegembiraan. Sekarang dia sah menjadi isteri kepada Muhammad Yusuf bin Syukor, nama yang tertulis di atas sijil perkahwinan. Raudhah disebelahnya memeluk Zahrah dengan erat, dia menangis teresak-esak. Hatinya gembira Zahrah telah diijab-kabulkan dan hatinya juga terluka, Yusuf bukan lagi jodohnya.

“Intan jangan nangis begitu, kita tetap sahabat seperti dulu.” Pujuk Zahrah. Raudhah mengesat air matanya. Kedengaran derap kaki yang banyak dari luar menuju ke kamar pengantin, Hati Raudhah semakin berdebar-debar. Bersediakah dia melihat Yusuf menyarungkan cincin perkahwinan mereka ke jari manis Zahrah? Bersediakah dia melihat dahi Zahrah dikucup oleh Yusuf. Hatinya berbelah-bagi saat itu. Sementara itu, hati Zahrah berdebar-debar menanti siapakah suaminya itu, bagaimanakah parasnya. Kebahagiaan jelas terlukis diwajahnya.

Yusuf melangkah masuk ke kamar pengantin, matanya masih tunduk ke bawah. Dia cuba mengumpul kekuatan untuk menatap wajah isterinya. Dia mengharapkan isteri dihadapannya adalah Raudhah namun takdir telah mengatakan segalanya. Impiannya untuk bersama Raudhah ditinggalkan saat dia sah menjadi suami kepada Sofiya Zahrah.

Maafkan Yusuf. Yusuf mendongakan kepalanya ke hadapan. Hatinya terkejut! Longlai kakinya melihat kekasih yang dipujanya sekian lama menjadi pengapit pengantin perempuan dalam majlis perkahwinannya sendiri! Mata mereka bertentangan, jelas kelihatan mata Raudhah bergenangan air mata.

Raudhah! Maafkan Yusuf! Hanya itu yang terungkap oleh hati lelakinya.

“Sarungkan cincin ke jari Sofiya!” Arah ibu Yusuf perlahan sambil menghulurkan sebentuk cincin bertatah permata putih. Hatinya teragak-agak untuk menyambut huluran cincin dari ibunya.

MAAFKAN YUSUF! Hatinya menjerit.

Raudhah menundukkan pandangannya, ditahan air matanya dari menangis walaupun dia sudah tidak mampu untuk berlagak seperti tiada yang berlaku. Dia tidak dapat menipu dirinya bahawa suami sahabatnya kini adalah Yusuf! Raudhah mengangkat tangan Zahrah yang masih tidak berganjak dari atas pahanya saat pengantin lelaki ingin menyarung cincin ke jarinya.

Zahrah! selayaknya dirimu menerima Yusuf. Hati Yusuf bertambah rasa bersalah melihat Raudhah mengangkat tangan sahabatnya untuk disarungkan cincin perkahwinan. Sebetulnya jarimu yang layak menyarung cincin perkahwinan darinya. Saat dia mengucup lembut dahi Sofiya Zahrah, Raudhah bangkit dari duduknya dan menuju ke luar kamar.

Maaf sahabat, aku tidak mampu menyaksikan takdir seperti ini. Raudhah menangis tersedu-sedan di belakang rumah sahabatnya.

Yusuf! Cintailah Sofiya, sesungguhnya aku lebih redha kehilangan cintamu daripada aku kehilangan cinta seorang sahabat seperti Sofiya. ….

Zahrah terus mendail nombor telefon Raudhah, sejak akhir-akhir ini semakin sukar untuk menghubungi Raudhah. Hatinya rindu untuk bertemu dengan sahabat karibnya, banyak perkara yang ingin diceritakan kepada Raudhah. Kali terakhir dia bertemu dengan Raudhah lima bulan selepas perkahwinannya. Adakah Raudhah merasa tidak selesa dengan statusnya sebagai isteri orang. Intan, sesungguhnya abang Yusuf tidak pernah menghalang kita untuk tetap bertemu seperti dahulu. Zahrah merasakan bahunya disentuh lembut. Dia berpaling.

“Sofi buat apa di laman rumah malam-malam ini? Mari masuk, nanti demam siapa susah? Bayi dalam perut itu juga.” Zahrah tersenyum dengan gurauan suaminya, air matanya menitis.

“Kenapa menangis ini?” Yusuf terkejut, jarinya menyeka air mata isterinya.

“Sofi rindu Intan, sudah banyak kali Sofi telefon tapi tidak dijawab. Sofi tidak tahu kenapa Intan seakan-akan menjauhkan diri dari Sofi, kalau Sofi ada melakukan silap, beritahu Sofi, Sofi akan berubah. Sofi tidak mahu persahabatan kami sejak di bangku sekolah putus begitu sahaja.” Kata Zahrah sambil matanya memandang suaminya. Yusuf merenung mata isterinya yang berkaca itu. Dia tahu Raudhah tidak selesa untuk bertemu dengan Sofiya mahupun dirinya. Maafkan Yusuf Sofi, kerana Yusuf persahabatan Sofi dengan Raudhah retak.

“Mungkin dia sibuk dengan kerjanya.” Pujuk Yusuf.

“Mari kita masuk ke dalam, tidak elok berlama diluar ini.” Yusuf memipin tangan isterinya ke dalam. Usia kandungannya kini mencecah lapan bulan. Isterinya mengalami alahan yang teruk dan banyak menghabiskan masa di rumah. Dia pula semakin sibuk dengan kerjanya sebagai jurutera di syarikat swasta di ibu kota. Nasib baik jarak antara rumahnya dengan tempat kerja hanya 20 km.

“Sofi! Kenapa?” Tanya Yusuf melihat isterinya terhuyung- hayang berjalan. Zahrah tersenyum, tangannya memicit-micit kepalanya. “Tidak apa apa, biasalah mengandung ini, pembawakan budak.” Jelas Zahrah.

“Abang cintakan Sofi?” Tanya Zahrah tiba-tiba. Yusuf terkejut. Bagaimanakah perasaannya terhadap isterinya setelah hampir setahun mereka bernikah? Adakah cintanya terhadap Raudhah telah lenyap?

“Cinta!” Jawabnya ringkas.

“Apa buktinya?” Zahrah menduga suaminya.

“Eh! Habis yang dalam perut itu bukan bukti lagi?” Mereka tersenyum. ….


Sudah seminggu Raudhah terlantar di hospital tidak sedarkan diri akibat kemalangan di jalan raya. Doktor mengesahkan Rudhah mengalami kecederaan dalaman dan jantungnya mengalami komplikasi untuk berfungsi, andai dalam masa terdekat ini tidak ada penderma, mungkin nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Luluh air marmata Zahrah ketika mendengar penjelasan daripada doktor Farid. Zahrah menggenggam tangan Raudhah. Bukalah matamu, tataplah wajahku, berbicaralah denganku, sesungguhnya aku rindu mendengar suaramu, sudah sekian lama kita tidak berbicara dan saatku ketemu denganmu kembali, kamu masih diam tanpa bicara. Aku khuatir jika diammu semakin lama, bukalah matamu! Zahrah menangis tersedu sedan di katil Raudhah. Yang kedengaran hanyalah deru nafas Raudhah melalui alat bantuan pernafasan.

Allah! Biarku ganti tempatnya. Zahrah terdetik untuk membaca diari yang diberikan oleh jururawat yang diberikan oleh polis yang mejumpainya di tempat kejadian. Dia membelek-belek diari yang pernah dibeleknya pada hari perkahwinannya, satu foto terjatuh dari celahah diari itu. Zahrah mengambil foto yang terbalik gambarnya, terdapat tulisan ringkas dibelakangnya.

Yusuf! Cinta hatiku. 16/2/ 2001 Zahrah menterbalikan gambar tersebut.

“Abang Yusuf!” Segera wajahnya berpaling kearah Raudhah yang terlantar dikatil. Apa semua ini? Hatinya bingung. Apakah hubungan abang Yusuf dengan Intan? Zahrah membelek-belek helaian diari Raudhah.

17/ 3/ 2003 Yusuf! Intan akan pegang janji Yusuf! Intan akan menunggu Yusuf menuntut cinta Intan kembali. Perpisahan ini hanyalah atas dasar perhubungan namun cinta Intan masih seperti dulu.

25/ 6/ 2007 Sofiya! Bagaimana mungkin aku ungkapkan perasaanku saat aku mengetahui bakal suamimu adalah lelaki yang ku nanti bertahun lama janjinya untuk dipenuhi? Aku menantinya tanpa prasangka, aku meyakini bahawa dia akan kembali mencariku. Namun,… Sofiya! Tidak mungkin aku mengecewakan hari bahagiamu. Yusuf! Apakah alasan diatas pengkhianatan janjimu sendiri?

Zahrah terduduk di birai katil sahabatnya, tangisnya teresak-esak.

Intan! kenapa Intan sembunyikan hal ini? Intan tidak perlu korbankan cinta Intan semata-mata tidak ingin melihat Sofi terluka! Zahrah menyesal, kiranya dia sempat membaca diari Intan pada hari perkahwinannya pasti Intan bahagia dengan Yusuf!

Maafkan Sofi Intan! Sofi telah merampas Yusuf darimu. Zahrah menekan-nekan kepalanya, sakitnya datang lagi.

“Masuk!” Doktor Farid menjerit dari dalam biliknya.

“Assalamualikum doktor, boleh saya berbicara sebentar?” Tanya Zahrah.

“Silakan duduk Puan Zahrah!” Jemput Doktor Farid.
“Tapi Puan, kita masih punya masa menanti penderma!” Kata Doktor Farid tegas.

“Benar kita masih punya harapan, tetapi adakah doktor boleh menjamin bahawa saya akan hidup untuk dua tiga hari lagi? Doktor sendiri memberitahu kepada saya bahawa hayat saya tidak dapat bertahan lebih lama.” Kata Zahrah.

“Benar, tapi Puan masih punya harapan untuk sembuh, jangan berputus asa!” pujuk doktor Farid lagi.

“Saya tidak dididik untuk berputus asa, dan Raudhah juga tidak dididik untuk berputus asa. Saya dapat merasakan bahawa penyakit saya tidak akan sembuh malah ia semakin teruk dari hari ke hari. Berikan Raudhah peluang untuk hidup! Lagipun seminggu lagi saya akan melahirkan anak, doktor lebih tahukan apa yang perlu dilakukan, izinkan saya hidup dalam dirinya.” Zahrah berkata tegas.

“Kita perlu lakukan ujian dahulu, adakah suami puan tahu akan hal ini?” Tanya doktor Farid lagi, Benar tekaan Zahrah, penyakitnya telah melepasi tahap kritikal, sukar untuk disembuhkan. Namun sejak setahun lalu dia melihat pesakitnya ini seorang yang kuat, walaupun tanpa kimoterapi, Zahrah masih mampu bertahan sehingga ke hari ini.

“Saya akan beritahu suami saya nanti!” Zahrah keluar dari bilik doktor Farid. Raudhah, maafkan Zahrah! ….

Yusuf kelihatan sugul di tepi tingkap hospital. Dia memandang keluar tingkap, hujan masih lagi lebat sejak petang tadi. Raudhah! Zalimkah Yusuf? Hatinya bercelaru, segeralah sembuh Raudhah! Kamu masih layak untuk meneruskan kehidupan ini, kamu akan menemui lelaki yang lebih baik dariku! Perlu ku akui, sehingga saat ini, masih ada lagi secarik rindu untukmu, namun dirimu juga mengetahui Sofiya Zahrah adalah isteriku kini.

Zahrah memandang Yusuf yang sendirian di tingkap, Abang Yusuf! Maafkan Sofi! Sesungguhnya Sofi kejam kerana menghancurkan impian abang untuk bersama dengan Intan. Benar, jika dari awal lagi Sofi mengetahui hal ini, pernikahan mereka tidak akan dilangsungkan. Adakah dia masih punya peluang untuk membetulkan keadaan?

“Abang.” Zahrah menyentuh lembut bahu suaminya.

“Sofi, adakah Raudhah masih punya harapan untuk hidup?” Tanya Yusuf tanpa memandang isterinya. Entah mengapa dia tidak sanggup kehilangan Raudhah, adakah dia masih mencintai Raudhah seperti dulu? Tidak cukupkah dalam masa setahun ini untuk dia melupakan Raudhah?

“Intan akan sembuh!” Jawab Zahrah optimis.

“Adakah telah ada jantung yang sesuai untuknya?” Yusuf berpaling.

“Insyaaallah, esok pemindahan jantung akan dijalankan. Raudhah akan sembuh seperti sedia kala.” Jawab Zahrah sambil tersenyum. Dia memandang dalam kearah suaminya. Yusuf tersenyum lantas memeluk isterinya. Raudhah akan sembuh! Itulah yang diharapkan dalam doanya. Zahrah melepaskan pelukan suaminya.

“Abang, esok juga Sofi dijangkakan bersalin, jadi Sofi nak bersalin di hospital ini.” Beritahu Zahrah. Perlukah Yusuf mengetahui hal yang sebenar, dia tidak ingin merumitkan keadaan, dia ingin redha dengan tekadnya, Raudhah perlu diselamatkan, dia juga tidak ingin Yusuf bersedih dengan keadaannya jika dia mengetahui rancangannya. Dia tidak ingin Yusuf mengetahui sebelum pembedahan bahawa penderma jantung untuk Raudhah adalah isterinya sendiri. Yusuf mengangguk-angguk.

“Abang, jika terjadi sesuatu keatas Sofi esok, mahukah abang meredhai Sofi? Meredhai segala perbuatan Sofi? Meredhai segala yang bakal terjadi esok hari? Meredhai sesuatu yang tidak mampu terluah hari ini? Mahukah abang meredhai kehidupan Sofi sebagai isteri abang selama setahun ini?” Zahrah cuba menahan air matanya dari menitis.

Yusuf memegang kedua belah bahunya lembut dan memandangnya. “Kenapa Sofi tanya soalan begitu? Insyaallah esok semuanya akan berjalan lancar, Sofi akan selamat melahirkan anak abang dan Raudhah akan selamat daripada pembedahannya dan abang akan menjadi orang yang paling bahagia sekali hari esok!” Kata Yusuf bersemangat. Zahrah kembali memeluk Yusuf.

Sofi akan membahagiakan abang sehingga akhir hayat abang, maafkan Sofi, redhalah keatas Sofi atas segala tindakan Sofi, Sofi tidak ingin membuatmu sedih! Namun sejak hari pertama pernikahan kita, Sofi telah membuat hatimu terluka dan hati sahabatnya Intan juga.

Maafkan Sofi! …. Zahrah memandang kearah Raudhah di sebelah katilnya, sebentar lagi jantungnya akan berada di dalam jasad Raudhah. Tangan Zahrah dipegang seeratnya, dia mengucup dahi dan pipi Raudhah lama, air matanya menitis.

Maafkan Sofi! Hingga ke saat ini Sofi masih tidak dapat mendengar suaramu, Intan terus diam, bukalah matamu, lihatlah wajahku untuk kali terakhir. Air matanya menitis semakin laju, ummi, baba, abang Yusuf, Intan! Maafkan Sofi salama kehidupan Sofi bersama kalian. sebentar kemudian dunia Zahrah gelap dan sunyi. ....

Yusuf masih menanti penuh debar di luar bilik persalinan, dia juga diberitahu saat-saat akhir bahawa isterinya perlu dibedah. Raudhah juga dimasukan di wad yang sama untuk dibedah juga pada masa yang sama. Yusuf dan ahli keluarga yang lain semakin risau kerana pembedahan itu mengambil masa yang lama, tidak ada tanda-tanda pembedahan kedua-duanya akan selesai. Setelah hampir lapan jam menuggu, akhirnya doktor Farid diiringi oleh seorang juru rawat keluar membawa seorang bayi.

Kepenatan menunggu di luar terus hilang saat dia memandang bayi yang berada di dalam pangkuan jururawat. Dia memangku bayi perempuannya.

“Doktor, bagaimana keadaan isteri saya?” Tanya Yusuf.

“Bagaimana pula keadaan Intan?” Tanya ibu Intan. Masing-masing menanti jawapan dari doktor yang berusia dalam lingkungan 40-an. Doktor Farid mengambil nafas dalam-dalam dan memerhatikan setiap wajah yang berdiri di hadapannya.

“Alhamdulillah, pembedahan jantung keatas Cik Raudhah Berjaya dilakukan. Keadaannya juga stabil” Doktor Farid berjeda seketika. Dia mengumpul kekuatan untuk memberitahu hal yang sebenar. Walaupun situasi ini bukan yang pertama namun hati manusianya seakan-akan tidak sanggup untuk menberitahu hal yang sebenar, dia tidak ingin berita itu nanti menghapuskan senyuman diwajah mereka.

“ Seperti yang Encik Yusuf ketahui, penyakit yang dihidapi isteri encik sejak setahun yang lalu sudah melewati tahap kritikal dan….”

Yusuf segera memotong percakapan doktor Farid.

“Apa yang doktor cakapkan ini? Isteri saya menghidap penyakit? Penyakit apa?” Doktor Farid terkejut dengan pertanyaan daripada Yusuf, dia membuat andaian bahawa pesakitnya tidak memberitahui hal yang sebenar tentang penyakitnya.

“Puan Zahrah mengidap…. Kanser otak sejak setahun lalu…” beritahu doktor Farid.

Yusuf terkasima.

“Doktor! Berterus terang kepada kami, bagaimana keadaan anak perempuan saya?” Tanya baba Zahrah yang sedari tadi diam memerhatikan perbualan doktor dengan Yusuf.

“Encik, maafkan kami…kami telah mencuba sedaya upaya, Allah lebih menyayangi Puan Zahrah.” Beritahu doktor Farid dengan perasaan yang berat. Sebentar kemudian dia berlalu pergi. Kaki yusuf terasa longlai, akhirnya dia terduduk, dia memerhatikan anak perempuan yang berada dalam pelukannya. Sofi! Dia teringat perbualan mereka semalam.

“Abang, jika terjadi sesuatu keatas Sofi esok, mahukah abang meredhai Sofi? Meredhai segala perbuatan Sofi? Meredhai segala yang bakal terjadi esok hari? Meredhai sesuatu yang tidak mampu terluah hari ini? Mahukah abang meredhai kehidupan Sofi sebagai isteri abang selama setahun ini?”

Sofi! Kenapa sakitmu tidak diberitahu, aku suamimu! Sofi…maafkan abang. Yusuf merasakan dunianya gelap tanpa lagi cahaya.

Sofi! Seperti pintamu, aku meredhai selama hidupmu sebagai isteriku. ….



Yusuf membuka pintu kamarnya, sunyi. Rindunya menggamit kembali terhadap Sofi! Aku juga mencintaimu, bekas tanah masih melekat diseluarnya usai majlis pengebumian petang tadi. Yusuf memnghampiri meja solek dan memandang gambar perkahwinan mereka. Terdapat dua sampul surat diatas meja tersebut. Satu untuk dirinya, satu untuk Raudhah. Adakah Sofi tahu bahawa ajalnya sudah tiba? Yusuf mengumpul kekuatan untuk membaca isi kandungan surat itu.

Assalamaualaikum, Abang, Terima kasih kerana sudi menjadi suami yang baik untuk Sofi. Terima kasih kerana mencintai Sofi. Disaat Sofi sah menjadi isteri abang, Sofi berjanji untuk mencintai abang dengan seikhlas hati, menjadi isteri yang solehah, isteri yang menjadi penyejuk mata, penenang jiwa si suami walau apapun ketikanya.

Namun… Maafkan Sofi, Sofi telah mencalarkan hatimu pada hari itu juga. Abang, kenapa diterima pernikahan ini jika hati dan cinta abang untuk orang lain? Mengapa masih mengaku cinta terhadap isterimu sedangkan hatimu tidak begitu. Mengapa perlu menipu hatimu demi kebahagiaan diriku.

Adalah kesilapan besar saat kita dinikahkan! Sofi tidak dapat membayangkan perasaan Intan yang berada disebelah Sofi melihat cincin perkahwinan lelaki yang disanjunginya disarungkan dijari manis sahabat baiknya.

Sofi telah mengetahui tentang kisah kalian, namun ia sudah terlewat. Saat Sofi mengetahuinya Intan sedang terbaring lesu di katilnya dan Sofi dalam keadaan bahagia menanti saat kelahiran bayi kita. Betapa zalimnya Sofi menjadi penghalang cinta kalian demi kebahagian Sofi sendiri.

Sekarang Sofi sedar mengapa Intan semakin menjauhkan diri dari Sofi. Mana mungkin hati perempuannya tega untuk bertemu dengan abang yang sentiasa bersama dengan Sofi, hatinya tidak akan mampu untuk melihat lelaki yang dipujanya berjalan seiringan dengan sahabat baiknya. Sesungguhnya Sofi telah melakukan kesalahan yang besar terhadap kalian.

Abang, Maafkan Sofi, saat abang membaca surat ini, barangkali Sofi sudah tiada di dunia ini, jika masih adapun Sofi tidak akan membiarkan abang menghalang rancangan Sofi. Fahamilah hati Sofi, bukan niat Sofi untuk menderhakai, bukan jua niat membelakangi tentang penyakit Sofi, ketahuilah Sofi tidak ingin membebankan abang dengan penyakit Sofi, maafkan Sofi.

Maafkan Sofi kerana tidak memberitahu abang bahawa penderma jantung kepada Intan adalah… Sofi, isteri abang!. Cukuplah Sofi menjadi penghalang keatas cinta kalian, cukuplah Sofi melukai hati Raudhah. Redhalah kehidupan Sofi sebagai isteri abang.

Apabila anak kita dilahirkan, berikan dia nama ‘Raudhah’ dan nikahilah Intan! Sesungguhnya Sofi mencintai abang saat hari pertama Sofi menjadi isteri abang. Andai dirimu sudi, terimalah aku menjadi bidadarimu di syurga. Izinkanlah aku menemanimu di sana untuk selama-lamanya. Salam sayang, SOFIYA ZAHRAH.

Yusuf memandang dirinya dari dalam cermin. Yusuf! Layakkah kamu menerima pengorbanan sebesar ini? Matanya berkaca, Allah! Ampunkan hambamu kerana hanya memikirkan tentang perasaanku, kerjaku sehingga aku leka, sehingga aku mengabaikan tanggungjawabku terhadap isteriku. Sehingga aku tidak mengendahkan sakit kepala isteriku yang hatiku menyangka ia hanya pembawakan budak, sehingga aku buta untuk melihat dengan teliti botol-botol ubat isterinya. Maafkan Yusuf Sofi! Maafkan Yusuf! Abang tidak layak untuk semua ini. ….


Sudah hampir seminggu Raudhah sedar namun perihal pemergian Zahrah masih belum diketahuinya. Doktor melarang diceritakan hal yang sebenar, khuatir dia tidak dapat menerima kenyataan dan ia akan menjejaskan jantung barunya.

“Ibu, Dimana Sofi? Sudah seminggu Intan sedar, tapi Sofi tidak juga datang menjenguknya.” Tanya Raudhah dengan suaranya yang perlahan. Dia tidak dibenarkan bercakap banyak.

“Sofi ada datang jenguk Intan, tapi ketika itu Intan sedang tidur.” Jawab ibunya pendek. Dia beristighfar dalam hati. Entah yang kali keberapa dia menipu anak gadisnya.

“Kenapa tidak dikejutkan Intan? Intan rindu untuk bertemu dengan Sofi, Intan hendak minta maaf kerana menjauhkan diri darinya tempoh hari.” Matanya bergenang air mata.

“Intan jangan nangis, nanti ibu beritahu Sofi suruh datang melawat Intan lagi.” Pujuk seorang ibu. Intan kembali menutup matanya. Dia tidak menyangka sehingga ke hari ini dia masih bernyawa. Dia ingin sekali mengetahui jantung siapa yang berada di dalam dadanya.

“Ibu siapakah yang mendermakan jantung kepada Intan?” Intan kembali membuka matanya. Ibunya kelu, siapakah penderma jantung kepada anaknya? ….

Setelah hampir sebulan lebih di tahan di wad, Raudhah dibenarkan pulang.

“Ibu, boleh hulurkan telefon Intan? Intan mahu menghubungi Sofiya.” Pinta Raudhah. Ibunya kaget.

“Intan, doktor cakap Intan masih perlu banyak berehat, jangan fikirkan hal-hal lain” Kata ibunya yang sedang mengemas pakaiannya dengan anak bongsunya.

“Ibu, kenapa semua orang seakan-akan merahsiakan sesuatu dari Intan? Setiap kali Intan tanya tentang hal Sofiya, berbagai alasan diberikan, dimana Sofiya Ibu? Adakah sesuatu terjadi kepadanya? Kenapa Sofi tidak datang menjenguk Intan selama Intan disini? Sofi bukan orang begitu!” Ibunya tahu soalan begitu pasti akan hadir. Adakah ini masa yang sesuai untuk memceritakan hal yang sebenar? Ibunya memandang kearah anak bongsunya.

“Intan ,mari kita pulang.” Pujuk Ibunya.

“Intan tidak mahu pulang selagi Intan tidak dapat mendengar suara Sofi!” Intan berkeras, ibunya bungkam. ….

Intan terus menangis dalam perjalannya. Kereta yang dipandu ayahnya meluncur laju menuju ke tanah perkuburan.

Sofi! Maafkan Intan! Sofi tanggung derita itu seorang diri, kenapa tidak dikongsi dengan Intan? Kita sudah berkawan sudah lama, mengapa masih ingin berahsia? Intan kembali kecewa, maafkan Intan! Intan juga berahsia denganmu, namun ia demi kebahgiaanmu.

Maafkan Intan kerana tidak mempedulikan panggilanmu. Maafkan Intan! Intan dipapah oleh Ibu dan adiknya menuju ke pusara Zahrah, kakinya masih tidak kuat untuk berdiri sendiri. Kelihatan seorang lelaki sedang berdoa di pusara Zahrah. Raudhah menghampiri.

“Yusuf!” Panggilnya lemah, air matanya terus menitis, suaranya juga semkin tersekat- sekat. Yusuf berpaling namun tidak berkata sepatah pun. Yusuf bangkit memberi laluan kepada Raudhah dan bersalaman dengan ayah Intan.

“Maafkan Intan Yusuf!” Kata Intan sambil matanya memandang batu nisan Zahrah. Yusuf tidak menjawab sebaliknya dia menuju ke keretanya.

“Sofi! Maafkan Intan!” Hanya itu yang terucap dari bibirnya. Air-matanya masih menitis laju, sesungguhnya dia redho dengan pemergian Sofiya. Yusuf datang membawa surat yang ditulis Zahrah kepada Raudhah dan menghulurkannya kepada Intan, mulutnya masih terkunci untuk menuturkan kata kepada Raudhah. Dia meminta diri untuk pulang. Intan menatap sampul surat yang diterimanya. Adakah in bicaramu Sofiya?

Assalamualaikum Intan, sahabatku, Intan, tiada satu katapun dapat menggambarkan kecintaanku terhadapmu, betapa Sifat RahmanNya dititipkan ke dalam hatiku untuk turut sama mengasihimu. Dari bangku sekolah kita bersahabat, sehingga kini kita tetap jua bersahabat.

Intan, sesungguhnya Sofi yang perlu berkorban untukmu bukan dirimu. Sofi tidak berhak diatas pengorban itu. Usah disembunyikn lagi perasaanmu terhadap abang Yusuf! Bukan amarah dariku namun rasa bersalah yang teramat menyelubungi segenap hatiku tatkala Sofi menyedari bahawa Sofi adalah perampas kebahagiaanmu, impianmu untuk bersama abang Yusuf.

Adakah tangisan Intan dihari bahagia Sofi setahun yang lalu, tangisan luka? Tidak! Maafkan Sofi! Sofi telah berlaku zalim terhadap Intan dan abang Yusuf. Mafkan Sofi kerana terlewat mengetahui semua ini. Hingga saat ini Sofi mengetahui mengapa Intan menjauhkan diri dari Sofi. Hati Sofi luluh melihat Intan terbaring lesu di atas katil. Sofi menemani Intan, berbicara dengan Intan namun Intan terus diam dan Sofi tidak mahu Intan terus diam.

Maafkan Sofi kerana tidak dapat menemani Intan untuk berbicara lebih lama. Bukan Sofi tidak mahu, namun Sofi semakin lemah, juga semakin tidak mampu untuk melihatmu terus terbaring di katil. Sofi ingin melihat Intan kembali senyum seperti dulu. Namun Sofi tidak dapat lagi menatap lagi senyuman Intan.

Maafkan Intan, hanya ini yang termampu Intan korbankan demi persahabatan kita. Maafkan Intan kerana telah melukai hatimu, BUKAN NIATKU!

Intan, kita pasti kembali bersatu, kematian bukan pengakhiran kepada persahabatan kita. Sofi akan sentiasa hidup dalam diri Intan. Jantung Sofi adalah bukti kasih sayang Sofi terhadap Intan. Andai Sofi tidak menghidap penyakit pun, Sofi akan berkorban untuk Intan.

Jagalah abang Yusuf. Maafkan Sofi selama hidup dalam persahabatan kita. Salam rindu, SOFIYA ZAHRAH.

“Ibu!” Jerit Raudhah. Ibunya menghampiri dan memeluk anaknya. “Ibu! Jantung Sofi ada dalam Jasad Intan!” Hatinya terus menangis, Sofi! Mulianya dirimu mengorbakan nyawamu demi memberiku kehidupan yang baru!ALLAHUAKBAR! ….

Yusuf menatap pusara dihadapannya. Beginilah kiranya takdir antara mereka. Takdir cinta antara dua sahabat. Persahabatan yang memperlihatkan pengorbanan hati dan jiwa antara mereka. Adakah mampu ditemui persahabatan sebegini?

Sudah hampir dua tahun pemergian Raudhah, kekasih hatinya saat dia bertarung nyawa dengan Izrael melahirkan zuriatnya. Allah itu maha Pemurah. Dia mengurniakan keatasnya dua srikandi yang membahagiakan segenap hatinya.

Sofiya, cintamu bak kuntum mawar yang mewangi di taman, sesungguhnya engkau memberi lebih daripada aku pinta.

Raudhah, janjiku kabulkan demi janjiku kepada Sofiya, Cintamu tidak juga padam walaupun aku dahulu pernah menjadi suami orang. Tidak juga kau simpan dendam bahkan hatimu masih terbuka unutk menerimaku kerana amanahmu daripada seorang kawan. Perlukah aku menerima lebih dari itu? sesungguhnya Allah telah melimpahkan kurniannya terlalu banyak untukku.

“Zahrah, Raudhah! Mari kita pulang sayang.” Panggil Yusuf kepada anaknya yang leka mencabut rumput di pusara ibu-ibu mereka.

Mereka amanah dari kalian, akan aku jaga mereka, akan aku didik mereka menyemai kasih dan cinta sebagai sahabat seperti cinta kalian berdua.

Berbahagialah kalian di syurga, aku akan mencari kalian di sana, menjadi bidadari syurgaku. Cintaku pada kalian tidak akan pudar, rindu kalian akan terus bersemadi di hati. Setitis air mata mengiringi doanya petang itu.


*Glosari:
Husnuzon = Bersangka baik
Metafora = Kiasan
Esensi = Unsur

~ JoDoH ~

Jodoh..
www.iLuvislam.com
az-zahir
editor: kasihsayang

Jodoh..satu agenda yang besar dalam kitaran hidup manusia. Jodoh juga adalah agenda pelengkap untuk kesejahteraan dan tuntutan fitrah manusia normal yang dicipta oleh Allah. Indahnya Islam yang mensyariatkan perkahwinan yakni ikatan dan persetujuan antara dua makhluk, iaitu wanita dan lelaki secara sah di sisi syarak dan undang-undang yang memang secara azalinya saling memerlukan. Tatkala terciptanya Adam arakian juga diciptakan Allah akan Hawa.

Persoalannya apakah cara yang terbaik untuk mendapatkan jodoh? Banyak kita dengar dan belajar dari persekitaran kita dengan mendengar cerita dari ibu bapa,pakcik makcik,adik beradik,sahabat handai tentang kisah pertemuan sebelum menjejakkan kaki ke alam perkahwinan, begitu juga kisah agung dongeng-dongeng dan titipan sejarah cinta yang telah dibukukan malah difilemkan yang menjadi garis panduan malah impian kepada manusia dewasa ini.

Tidak kurang juga dengan kisah-kisah sedih dan pilu yang menjadikan perkahwinan satu institusi yang sangat ditakuti oleh sebilangan lelaki dan wanita Melayu beragama Islam di negara kita ini. Setelah membuat banyak kajian secara peribadi dan juga membaca rujukan carta statistik yang dikeluarkan oleh pihak berwajib, saya mendapati beberapa cara telah wujud bagi masyarakat Melayu Islam negara ini berjumpa dengan jodoh mereka. Saya juga mendapati penduduk Malaysia hari lebih suka mencari pasangan sendiri yang kononnya akan menjamin kebahagiaan berkekalan kerana sudah saling mengenali antara satu sama lain. Ini memang terbukti kerana asas bagi sesebuah perkahwinan adalah persetujuan antara dua pihak. Jadi ini memudahkan urusan pembinaan mahligai syahdu pasangan dan saya secara peribadinya sangat menghormati dan kagum terhadap pasangan sebegini. Dengan jangka masa pengenalan yang agak matang itulah mendewasakan mereka malah mampu memahami pasangan sebaik mungkin.

Tetapi setiap yang pro pasti ada kontranya, itulah adat dunia yang tidak mampu disangkal oleh cerdik pandai dari tempat dan masa mana sekalipun. Kalau pasangan pilihan hati sendiri begitu enak melayari bahtera rumah tangga begitu juga mudahnya pasangan yang terlalu memahami pasangan masing-masing terjebak dalam permasaalahan rumah tangga, yang akhirnya terbukti dengan hanya perceraian. Tidak saya mahu huraikan disini apakah faktornya kerana bukan tujuan coretan tinta ini.

Lain pula perbedaan yang berlaku apabila pasangan bersatu kerana dijodohkan, tapi cara ini dianggap kolot dan tidak praktikal kerana pemikiran masyarakat sekarang mementingkan kebebasan berfikir dan bersuara. Jadi cara ini tidak lagi menjadi pilihan masyarakat kini, kerap kali kita dengar banyaknya kesan negatif akibat penjodohan sebegitu. Tapi lain pula jika saya berbual dan bertanya dengan pakcik-pakcik atau makcik-makcik lewat setengah abad yang majoritinya berkahwin setelah dijodohkan tetapi ternyata bahagia sehingga akhir hayat mereka.
Maka saya sedar bahawa selayaknya kita harus berfikir apakah cara yang paling terbaik untuk diri kita mendapat jodoh hayat.


Sedarkah kita bahawa Allah ta’ala sudah berfirman bahawa ketika mana kita berusia 6 bulan di dalam rahim ibu kita sudah ditetapkan kepada kita 3 perkara yakni persoalan ajal maut,rezeki dan akhir sekali jodoh, maka selayaknya persoalan ini kita sandarkan pada Islam yang sentiasa menjadi pemudah dan pedoman hidup mukmin sejati. Disambung lagi dengan sabda Rasulullah SAW yang menggariskan 4 perkara utama yang perlu pada pemilihan pasangan hidup iaitu rupanya,hartanya,keturunanya dan agamanya. Maka selayaknya menjadi pilihan utama adalah pasangan yang mencintai agama kerana seseorang mukmin secara langsung akan terserlah sifat soleh dan solehahnya. Dengan itu secara langsung sifat kewanitaanya, kekayaanya, kebijaksanaanya jua akan terserlah sama.

Pada setengah perkara ternyata tidak layak otak kita yang sejengkal ini mahu membuat perkiraan tepat mengenai apatah lagi persoalan qada dan qadar Allah. Kerana semestinya setiap ketetapan Allah adalah yang terbaik, cuma cara penerimaan kita terhadap nikmat dan ujianNya menunjukkan kita menerima semua ketapan itu sebagai baik atau tidak. Pada golongan yang bakal berhadapan dengan situasi ini mahupun yang telah lewat, “jangan takut dan jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita” dan lagi Allah berfirman “berdoalah kepaku nescaya akan kumakbulkan.”

Jadi apakah alasan kita hanya mengeluh dan hanya menyalahkan takdir dalam pencarian jodoh. Berdoalah dengan konsisten dan ikhlas, dengan asbab (sebab) pasangan tersebut dijodohkan oleh emak bapa, pertemuan dari kawan-kawan, rakan sekuliah malah mungkin melalui jaringan maya (internet). Walaubagaimana cara sekalipun percaya dan yakinlah, pastinya ketapan Allah adalah yang terbaik. Penulis yakin cara yang paling baik dan berkat ialah berdoa kehadrat Ilahi dengan konsisten dan setulus hati agar dikurniakan pasangan yang akan membahagiakan kita dunia dan akhirat,dengan itu serahkanlah 100% keyakinan pada qada dan qadar Allah Ta’ala. Janganlah terlalu terikut-ikut dengan persekitaran umum sekarang yang banyak terpengaruh dengan cara dan etika bangsa barat yang hanya mementingkan kepuasan dan keselesaan nafsu yang tiada noktah.

Tetapi tidak secara totalnya cara tersebut dijadikan sandaran, macam mana caranya sekalipun, tetapkan hati dan tanamlah dengan bisikan amalmu yang ikhlas kerana Allah, paksalah hatimu untuk belajar menjadi ikhlas hati dan budi. Semestinya kita sebagai orang Islam wajib percaya dengan syurga. Sedarkah kita segala kesempurnaan nikmat hanya boleh dirasai di sana? Berapa ramai para sahabat di zaman Rasulullah hidup penuh dengan keaiban, kehinaan dan penderitaan tetapi sekarang terbayangkah kita di mana mereka? Sebahagian besar daripada mereka sekarang berada di sisi Zat yang agung malah dengan kenikmatan yang tidak akan mati, Allahu rabbul jalil.

Begitu juga dengan hal jodoh yang menjadi topik kita kali ini. Kesempurnaan yang hakiki hanya di syurga, berapa banyak Kalam Allah yang menggambarkan janji nikmat olehNya pada manusia yang soleh dan solehah. Jadilah mukmin yang baik nescaya tiada sesal pada kita akhirnya.

Sunday, May 1, 2011

~ReNuNgAn BeRsAmA~

Bacalah
''Bacalah dengan nama tuhanmu yang mencipta sekelian alam....''
Kami tidak berzina!
Maaf, saya tidak menuduh awak berzina tetapi awak menghampiri zina.

Kami hanya berbual, berbincang, bertanya khabar, minum-minum….adakah itu menghampiri zina?
Ya, perbuatan itu boleh menjerumus pelakunya ke lembah perzinaan.

Kami dapat mengawal perasaan dan kami tidak berniat ke arah itu.
Hari ini, ya. Besok mungkin kamu kecundang. Kamu dalam bahaya. Jangan bermain dgn bahaya. Iblis dan syaitan akan memerangkap kamu. Sudah banyak tipu daya iblis yang mengena sasaran. Iblis amat berpengalaman dan tipu dayanya amat halus. Ia telah menipu moyang kita yang pertama. Adam dan Hawa. Jangan pula terlupa. Siapalah kita jika dibandingkan dgn Adam dan Hawa? Iblis amat licik. Pengalamannya banyak. Ia ada lebih 1001 cara. Ingat, pesanan Rasulullah: Janganlah engkau bersendirian dgn seorang wanita
kecuali ketiganya adalah syaitan (Tabrani). Syaitan akan menghembus perasaan berahi. Kita lemah untuk menghadapi tipu daya iblis.

Tidak semestinya semua orang bercinta menjurus kepada perzinaan. Ada yang hanya bercinta dalam telefon dan hantar SMS sahaja. Tak pernah bersua muka pun!
Betul. Itu adalah salah satu yang dimaksudkan dengan menghampiri zina. Memang pada awalnya tidak bersua muka, tapi perasaan pasti bergelora. Lambat launnya desakan nafsu dan perasaan serta hasutan iblis, akan mengheret kepada suatu pertemuan. Pertemuan pertama tidak akan terhenti di situ sahaja. Percayalah, ia akan berlanjutan dan berterusan. Tidakkah itu boleh membawa kepada perzinaan akhirnya?

Takkan nak berbual-bual pun tak boleh? Itu pun zina juga ke?
Zina ada bermacam-macam jenis dan peringkatnya. ada zina betul, ada zina tangan iaitu berpegang-pegangan, ada zina mata iaitu melihat kekasih dgn perasaan berahi. Melihat auratnya juga zina mata. Zina hati iaitu khayalan berahi dgn kekasih sepertimana yg dinyatakan oleh Rasulullah: Kedua-dua tangan juga berzina dan zinanya adalah menyentuh. Kedua kaki juga berzina dan zinanya adalah berjalan (menuju ke tempat pertemuan). Mulut juga berzina dan zinanya ialah ciuman (Muslim dan Abu Daud). Sebenarnya jalan dan lorong menuju kpd perzinaan amat banyak. Jangan biarkan diri kita berada atau melalui mana-mana jalan atau lorong yang boleh membawa kpd perzinaan.

Duduk berdiskusi pelajaran tak boleh ke? Bincang pelajaran sahaja!
Berdiskusi pelajaran, betul ke? Jangan tipu. Allah tahu apa yang terselit di dalam hati hamba-hambaNya. Kita nak belajar nak keberkatan. Kalau cemerlang sekalipun, kalau tidak diberkati oleh Allah, kejayaan tidak akan mambawa kebahagiaan. Hidup tidak bahagia, akhirat lebih lagi lah. Jangan berselindung disebalik pelajaran yang mulia. Allah suka kpd org yg berilmu. Jadi belajar hendaklah ikut batas dan ketentuan Allah. Belajar akan jadi ibadat. Adakah berdiskusi macam ni akan ditulis ibadah oleh malaikat Raqib dan Atid?

Sungguh! Bincang pelajaran shj. Ni study group.
Study group…? Nampak lain macam saja, manja, senyum memanjang, tak macam gaya berdiskusi. Takkan study group berdua shj? Kemana-manapun berdua. Kalau ye pun, carilah study group ramai sikit. Kalau duduk berdua-duaan macam ni…..betul ke bincang pelajaran? Jangan-jangan sekejap saja bincang pelajaran, yg lain tu…. banyak masa dihabiskan dgn fantasi cinta!

Tidaklah. Sungguh berbincang pelajaran.
Baik sungguh awak berdua. Takkanlah awak berdua tak ada perasaan apa-apa? Awak kurang sihat ke? Ingat, kita bukan malaikat, tak ada nafsu. Kita manusia. Jgn menafikan fitrah manusia. Kita ada nafsu, ada keinginan. Itulah manusia.
Kami sama-sama belajar, study group, saling memberi semangat dan motivasi.
Tak adakah kaum sejenis yg boleh dijadikan rakan belajar? Habis sudahkan kaum sejenis yg boleh memberikan motivasi? Jgn hina kaum sejenis kita. Ingat, byk org cemerlang yg belajar hanya dgn kaum sejenis. Lebih tenang perasaan, tidak terganggu, dpt berkat dan rahmat pula.

Takkanlah tak ada langsung ruang yg dibenarkan dlm Islam utk bercinta? Adakah Islam membunuh terus naluri cinta?
Naluri adalah sebahagian drpd kesempurnaan kejadian manusia. Naluri ingin memiliki dan suka kalau dimiliki (sense of belonging) adalah fitrah. Kalau naluri itu tidak wujud pd diri seseorg, tak normal namanya. Islam bukan dating membunuh naluri dan keinginan itu, tidak! Islam tidak suruh membunuh naluri spt yg dilakukan oleh para paderi atau sami. Jgn nafikan naluri ini. Jgn berbohong pd diri sendiri. Bukan salah dan berdosa kalau perasaan itu datang tanpa diundang. Itu adalah fitrah. Cuma tundukkan naluri itu utk patuh pd perintah Allah. Jadilah manusia yg sihat nalurinya. Jgn jadi malaikat! Krn Allah ciptakan kita sbg manusia. Dunia dan segala isinya akan hambar tanpa naluri atau nafsu.

Tentu ada cinta secara Islam.
Cinta secara Islam hanya satu, iaitu perkahwinan. Cinta berlaku setelah ijab qabul: cinta selepas berkahwin. Itulah cinta sakral dan qudus. Cinta yg bermaruah. Bukan cinta murahan. Inilah kemuliaan agama kita, Islam. Apabila Islam melarang sesuatu perkara, tentu ia gantikan dgn sesuatu yg lebih baik. Kalau ia melarang cinta antara lelaki dan perempuan sebelum kahwin, ia membawa “sesuatu” sbg ganti yg lebih baik iaitu perkahwinan. Sabda Rasulullah: Tidak ada yg lebih patut bg dua org yg saling mencintai kecuali nikah. (Ibni Majah). Cinta adalah maruah manusia. Ia terlalu mulia.

Kalau begitu, cinta remaja semua menghampiri kpd perzinaan?
Ya. Kalau lelaki dan perempuan bertemu tentu perasaan turut terusik. Kemudian perasaan dilayan. Kemudian teringat, rindu. Kemudian diatur pertemuan. Kemudian duduk berdua-dua. Kemudian mencari tpt sunyi sedikit. Kemudian berbual panjang sehingga malam gelap. Hubungan makin akrab, dah berani pegang tangan, duduk makin dekat. Kalau tadi macam kawan, sekarang macam pengantin baru semalam……Bukankah mereka semakin hampir dan dekat dgn perzinaan? Penghujung jln cinta adalah perzinaan dan kesengsaraan. Berapa ramai org yg bercinta tlh sampai kpd daerah perzinaan dan kesengsaraan. Kasihanilah diri dan ibubapa yg melahirkan kita dalam keadaan bersih tanpa noda drpd seekor nyamuk sekalipun!

Masih ramai org yg bercinta tetapi tetap selamat, tidak sampai berzina. Kami tahan diuji.
Allah yg mencipta manusia, Dia tahu kekuatan dan kelemahan manusia. Manusia tidak tahan ujian. Oleh itu Allah memerintahkan supaya jauhi perkara yg ditegah takut manusia akan kecundang.

Jadi manusia itu tak tahan diuji?
Kita manusia dari keturunan Adam dan Hawa, sejak dari awal penciptaan manusia, Allah telah mengingatkan manusia walaupun bahawa mereka tidak akan tahan dgn ujian walaupun kecil. Allah takdirkan satu peristiwa utk iktibar manusia. Allah tegah Adam dan Hawa supaya jgn makan buah khuldi dlm syurga. Buah yg lain boleh dimakan. Allah tahu kelemahan pd ciptaan manusia. Tak tahan diuji. Oleh itu Allah berpesan kpd Adam dan Hawa, jg hampiri pokok Khuldi itu. Firman Allah:

”Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu didalam syurga serta makanlah dari makanannya sepuas-puasnya apa sahaja kamu berdua sukai, dan jaganlah kamu hampiri pokok ini, (jika kamu menghampirinya) maka akan menjadilah kamu dari orang-orang yang zalim.”
(al-A’araf:19)

Tegahan yang sebenarnya adalah memakan buah khuldi. Tetapi Allah tahu sifat dan kelemahan Adam dan Hawa. Jika menghampiri perkara tegahan, takut nanti mereka akan memakannya. Kerana mereka tidak dapat mengawal diri. Demikianlah dgn zina. Ditegah berzina. Maka jalan ke arah perzinaan juga dilarang. Takut apabila berhadapan dengan godaan perzinaan kedua-duanya akan kecundang. Cukuplah kita belajar daripada pengalaman nenek moyang kita Adam dan Hawa.
Untuk mengenali hati budi pasangan sebelum buat keputusan berkahwin. Tetapi cinta lepas kahwin banyak masalah. Kita tak kenal pasangan kita secara dekat.
Bolehkah percaya dengan perwatakan masa sedang bercinta? Bercinta penuh dengan lakonan yang dibuat-buat dan kepura-puraan. Masing-masing akan berlakon dengan watak yang terbaik. Penyayang, penyabar, pemurah dan berbagai-bagai lagi. Masa bercinta adalah alam lakonan semata-mata. Masa bercinta, merajuk ada yang akan pujuk. Jangan harap lepas kahwin, bila merajuk akan ada yang memujuk. Banyak orang yang kecewa dan tertipu dengan keperibadian pasangan semasa bercinta. Perangai pasangan jauh berbeza. Macam langit dengan bumi. Masa bercinta, dia seorang yang amat penyayang, penyabar, sabar tunggu pasangan terlambat sampai berjam-jam. Tapi bila dah kahwin, lewat lima mini, dah kena tengking. Jadi, perwatakan dalam masa bercinta tidak boleh dipercayai. Percintaan adalah suatu kepura-puraan atau hipokrit.


Percayalah, kami bercinta demi merancang kebahagian hidup nanti.
Bagaimana diharap kebahagiaan jika tidak mendapat redha Allah? Kebahagian adalah anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Kebahagian bukan ciptaan manusia. Manusia hanya merancang kebahagiaan. Allah yang akan menganugerahnya. Bagaimana mendapat anugerah kebahagian itu, jika jalan mencapai kebahagian itu tidak diredhai Allah. Kebahagian hidup berumah tangga mestilah melalui proses yang betul. Sudah tentu prosesnya bukan bercinta begini. Allah tidak akan meredhai percintaan ini. Cinta yang diredhai Allah adalah cinta selepas kahwin. Bagaimana untuk mendapat keluarga yg bahagia jika langkah mula sudahpun canggung, bagaimana kesudahannya?

Tanya sikit… adik angkat, kakak angkat, abang angkat boleh ke? Ganti bercinta….
Semua itu adalah perangkap syaitan dan iblis. Hakikatnya adalah sama. Cinta yang diberi nafas baru. Kulitnya nampak berlainan, tetapi isinya adalah sama. Adik angkat, kakak angkat, abang angkat adalah suatu bentuk tipu daya iblis dan syaitan. Manusia yang terlibat dengan budaya “angkat” ini sebenarnya telah masuk ke dalam perangkap syaitan. Cuma menunggu masa untuk dikorbankan. Namakan apa nama sekalipun, semuanya adalah sama. Jalan akhirnya akan bertemu dgn zina.

Jadi, seolah-olah orang yang bercinta telah hilang maruah diri?
Mengukur maruah diri bukan ditentukan oleh manusia tetapi oleh pencipta manusia. Sebab ukuran manusia sering berbeza-beza, Orang yang sedang mabuk bercinta akan mengatakan orang yang bercinta tidak menjejaskan apa-apa maruah dirinya. Manakala, bagi org yg menjaga diri, tidak mahu terlibat dengan cinta sebelum kahwin, akan mengatakan orang yang bercinta sudah tidak bermaruah lagi. Cintanya ditumpahkan kepada orang yang belum layak menerima cinta suci. Kalau begitu ukuran bermaruah atau tidak adalah ditentukan oleh Allah.

Adakah orang yang bercinta hilang maruah?
Antara kemuliaan manusia ialah maruah dirinya. Orang yang bercinta seolah-olah cuba menggadai maruahnya kerana mereka menghampiri perzinaan. Manakala orang yang bercinta dan pernah berzina tidak layak berkahwin kecuali dengan orang yang pernah berzina juga. Mereka tidak layak untuk berkahwin dengan orang yang beriman. Allah berfirman:

”Lelaki yang berzina (lazimnya) tidak ingin berkawin melainkan dengan perempuan yang berzina melainkan dengan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik; dan perempuan yang berzina itu pula (lazimnya) tidak ingin berkahwin dengannya melainkan oleh lelaki yang sedang berzina atau lelaki musyrik. Dan perkahwinan yang demikian itu terlarang kepada orang-orang yang beriman.” (Surah al-Nur:3)

Jadi orang yang pernah bercinta juga tidak sesuai untuk berkahwin dengan orang yang tidak pernah bercinta. Tidakkah itu suatu penghinaan dari Tuhan.

Jadi orang yang bercinta hanya layak berkahwin dengan orang yang pernah bercinta juga?
Itulah pasangan yang layak untuk dirinya. Kerana wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik.
Kami telah berjanji sehidup semati.
Apa ada pada janji cinta? Berapa banyak sudah janji cinta yang musnah? Lelaki, jangan diharap pada janji lelaki. Mereka hanya menunggu peluang keemasan sahaja. Habis madu, sepah dibuang. Pepatah itu diungkap kerana ia sering berulang sehingga menjadi pepatah.

Si dia ini lain dari yg lain. Dia lelaki yang penyayang dan bertanggungjawab.
Tahukah hati budi lelaki? Sejahat mana lelaki, apabila ingin mengambil seseorg wanita sebagai isteri dan seterusnya menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, dia akan memilih wanita yang baik. Tetapi untuk berseronok suka dan berfoya-foya, lelaki biasanya akan memilih perempuan murahan kerana ia suatu pelaburan yang menguntungkan. Itulah rahsia lelaki.

Jadi, perempuan yang bercinta, jatuh maruahnya pada pandangan lelaki?
Tentu. Mana ada orang lelaki normal suka pada barang yang ‘second hand’ sedangkan barang yang baru masih ada. Sesetengah mereka menggambarkan perempuan seperti kereta yang diletakkan di show room sahaja; display only. Tapi ada yang boleh test drive. Ada pula yang kata; sekadar sepinggan mee goreng dan segelas sirap bandung, bawalah ke hulu, ke hilir. Sedihkan. Itulah hakikatnya.
Masih adakah orang yang tidak bercinta di zaman ini?
Ya, masih ada orang yang suci dalam debu. Golongan ini akan sentiasa ada walaupun jumlah mereka kecil. Mereka akan bertemu suatu hari nanti. Mereka ada pasagannya. Firman Alllah:

”Dan orang-orang lelaki yang memelihara kehormatannya serta orang-orang perempuan yang memelihara kehormatannya (yang memelihara dirinya daripada melakukan zina)..Allah telah menyediakan bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar”. (al-Ahzaab:35)

Bagaimana kami?
Kamu masih ada peluang. Bertaubatlah dengan taubat nasuha. Berdoalah serta mohon keampunan dariNya. Mohonlah petunjuk dan kekuatan untuk mendapat redhaNya.

Kami ingin mendapat redha Tuhan. Tunjukkanlah bagaimana taubat nasuha.
Taubat yang murni. Taubat yang sebenar-benarnya. Taubat yang memuhi 3 syarat:
1. Tinggalkan perbuatan maksiat. Putuskan hubungan cinta yang tidak diredhai Allah ini.
2. Menyesal. Menginsafi diri di atas tindak tanduk hidup yang menjurus diri dlm percintaan.
3. Berazam. Bertekad di dalam hati tidak akan bercinta lagi dengan sesiapa kecuali dengan seorang yang bernama isteri atau suami. Saatnya adalah selepas Ijab Kabul.

Ya Allah. Hambamu telah tersesat jalan. Ampunilah dosa-dosa hambamu ini.
Sesungguhnya engkau maha pengampun dan penerima taubat. Berilah kekuatan kepadaku untuk menghadapi godaan keremajaan ini. Anugerahkan kepadaku perasaan benci kepada maksiat. Hiasilah diriku dengan akhlak yang mulia. Ibu dan ayah, anakmu berdosa. Engkau jaga diriku sedari kecil dengan kasih sayang. Mengapa ku curahkan kasih itu kepada orang lain. Amin, Ya Rabbillalamin.
Moga Allah terima taubatmu……

~ Senang Bukan Syarat Untuk Tenang ~

Senang bukan syarat untuk tenang
Semoga artikel ini dapat menjadi peringatan kepada kita:
Dalam abjad rumi, huruf S dan T berjiran. Tapi bila jadi perkataan senang dan tenang, bunyinya boleh membuat orang yang baru belajar Bahasa Melayu atau orang pekak "confuse". Sebenaranya pakar bahasa Melayu dan orang yang tak pekak pun selalu "confuse" tentang dua perkataan nie. Buktinya, ramai orang mencari senang untuk mendapat tenang tak kira tau cakap Melayu atau tak, tak kira telinga pekak atau peka, sedangkan senang bukan syarat tenang.....
Orang tinggal di banglo besar, kita kata dia orang senang- tapi tak semua orang di banglo besar hidupnya tenang. Sebab tu pasang alat penggera dan ada juga yang mengupah pak guard untuk mengawasi rumahnya. Bukan kerana senang tapi kerana tak tenang. Takut dan bimbang setiap masa kalau-kalau waktu kita masuk ikut pintu depan, pencuri dan penyamun masuk ikut pintu belakang. Buat dosa juga senang, tapi side-effectnya membuat hati i jadi tak tenang, resah gelisah. Kerja mengata orang misalnya, boleh dibuat dengan senang. Gerakkan lidah, betulkan makhraj dan keluarkan bunyi dari mulut. Tapi lepas tu.... hati dilanda serba salah dan serba tak tenang.
Yang payahnya, orang nak nampak tenang dengan senang. Tenang tu berharga....perkara berharga tidak akan dapat dimiliki dengan bersenang-senang. Nak kunyah agar-agar pun berpuluh-puluh otot yang perlu bekerja! Senang itu nampak di mata sedangkan tenang dirasai oleh hati. Banglo besar bolah dilihat dengan mata, kereta besar boleh dilihat dengan mata, wang banyak dan orang gaji yang ramai boleh dilihat dengan mata....segala yang berbentuk lahir dapat dilihat dengan mata atau disentuh oleh pancaindera. Tapi tenang hanya dapat dirasai oleh hati. Bila hati tenang, tempat yang sempit terasa lapang....tapi bila hati resah, padang bola pun terasa menghimpit seperti lif yang penuh sesak.
Tenang hanya dapat dimiliki dengan zikrullah mengingati Allah. Bila sebut zikrullah, kita selalu bayangkan duduk di tikar sembahyang dan baca ayat zikir berjam-jam. Sebab itu kita merasa pelik kalau dikatakan zikrullah boleh buat hati tenang. Kerana ramai orang yang dah berzikir tapi tetap tak tenang. Di mana salah dan silapnya? Tenang itu dirasa oleh hati, oleh itu kalau zikrullah hanya disebut dimulut. hati tak akan terkesan. Zikrullah dengan hati, memahaminya dan menghayati....mengingati Allah alam setiap detik perjalanan hidup-itulah hakikat zikrullah. Kalau sekadar membaca " Alhamdulillah " beribu kali tapi hati tak ingat Allah itu dikatakan berzikir, maka silap tekaan kita. Sekadar baca ayat zikir, rasanya burung kakak tua pun boleh buat kalau dilatih tiap-tiap hari.
Hanya hati yang bergantung sepenuhnya dengan Allah dapat merasa nikmat tenang. Bagaimana boleh tenang kalau lidah menyebut "Alhamdulillah " tapi hati berkata " Tak patut Allah tak makbulkan doa aku". Bila ingat Allah ketika susah, Allah akan berikan ketenangan.Bila lupa Allah ketika senang, Allah cabut rasa tenang di hati. Bila ingat Allah diwaktu susah dan senang, hati tetap tenang. Lebih baik dapat tenang daripada senang. Tapi kalau dapat dua-dua lagi OK!!!!

Saturday, April 30, 2011

~ Fitrah Menjadi Fitnah ~

FITRAH MENJADI FITNAH

Artikel ini bertemakan perkahwinan dan juga sebab sebab mengapa ada di
antara kita memilih untuk berkahwin awal walaupun terpaksa berdepan dengan
risiko yang mungkin tidak dapat di lihat, tapi risiko adalah satu lumrah
kehidupan kita. Sekarang nikmatilah tazkirah ini.............
Hati remaja selalu berkata, apakah salah kami bercinta? Rasa cinta memang
tidak salah. Ia adalah fitrah semulajadi (instinct) yang ALLAH swt kurniakan
kepada setiap manusia. Ingin bercinta dan dicintai adalah instinct. Jiwa
manusia memerlukan cinta seperti jasad perlukan makanan. Oleh kerana cinta
adalah fitrah, maka tentulah tidak salah merasainya. Namun ALLAH tidak
kurniakan cinta secara polos begitu saja. Dia juga pencipta peraturan cinta
demi menjaga kemurniaannya. Peraturan inilah yang kerap dilanggar. Rasa
cinta tidak salah tetapi kesalahan selalu berlaku sewaktu menjalin hubungan
cinta. Di sinilah selalunya remaja terjebak. Cinta terlarang adalah cinta
yang menafikan peraturan yang telah ditetapkan oleh ALLAH swt. Ketika itulah
FITRAH telah menjadi FITNAH. Bila kehendak semulajadi tidak disalurkan atau
diisi mengikut peraturan maka akan berlakulah kekalutan dan kemusnahan.
Mengapakah perlu ada peraturan cinta? Jawabnya kerana ALLAH swt mencintai
manusia hambaNYA. Allah inginkan keselamatan dan kesejahteraan buat manusia
melaksanakan keinginan fitrah semulajadinya. Keinginan tanpa peraturan akan
menyebabkan banyak kemusnahan. Begitulah hubungan cinta yang terlarang akan
membawa banyak implikasi negatif dalam kehidupan. Pengalaman sudah pun
mengajar kita bahawa jangan sesekali bermain cinta, nanti terbakar diri.
Sudah banyak tragedi yang berlaku akibat hubungan cinta yg membelakangkan
Tuhan!
Hubungan cinta jangan dicemari oleh sebarang tindakan menyalahi syariat.
Lebih banyak perlanggaran hukum berlaku, lebih tinggilah risiko kemusnahan
yang akan berlaku. Jangan kuat tertipu dengan pesona cinta yang dihiasi
dengan pelbagai janji dan sumpah setia. Jangan kita mabuk dengan rindu dan
asyik yang membuai dan melenakan. Seteguk kita minum dari kendi cinta
terlarang, racunnya akan meresap membunuh akal, jiwa dan perasaan. Pada
ketika itulah cinta dikatakan buta. Maka butalah mata hati dan mata kepala
sehingga seseorang akan menjadi hamba kepada sesiapa yang dicintainya.
Ketika itu hati tidak nampak yang lain kecuali apa yang dicintainya. Lupalah
diri pada pencipta cinta kerana terlalu asyik dengan cinta yang
dikurniakanNya. Bagaimanakah pula perasaan kita agaknya jika seseorang itu
begitu leka dengan hadiah yang diberikan hingga terlupa bersalaman dan
berterima kasih dengan pemberinya?
Allah swt kerap dipinggirkan dalam hubungan cinta terlarang. Seolah-olah
cinta dan pencipta cinta itu sudah tidak ada kaitan antaranya. Hukum ALLAH
dilanggar bukan dengan rasa bersalah tetapi dengan rasa manis dan megah.
Tangan kekasih dipegang walaupun jelas ALLAH mengharamkan sentuhan antara
lelaki dan perempauan yang bukan muhrim. Tergamak berdua-duaan di tempat
sunyi walaupun sudah diperingatkan Nabi bahawa dalam keadaan itu syaitan
adalah pihak ketiga. Lebih dari itu pun banyak berlaku. Semuanya
seolah-olah halal kerana cinta. Racun-racun berbisa yang memusnahkan cinta
telah dianggap sebagai baja. Akhirnya pohon cinta terlarang pun berbuah.
Buah yang pahit, masam dan memabukkan. Buah yang muncul dengan pelbagai
jenama yang aneh dan menjijikkan - zina, sumbang mahram,bohsia, bohjan,
buang bayi dll lagi. Ketika itu indahkah cinta?
Peraturan cinta bagai tanda-tanda dan lampu isyarat di atas jalan raya.
Kereta diciptakan dengan kuasa untuk bergerak tetapi pergerakkannya perlu
diatur dan dikawal. Jika tidak, dengan kuasa itu akan berlakulah
perlanggaran dan pertembungan. Begitulah cinta, ia adalah kuasa tetapi kuasa
itu perlukan peraturan dan kawalan. Apakah peraturan-peraturan dalam
hubungan cinta? Hendaklah cinta kita itu didasarkan kepada cinta ALLAH.
Ertinya cinta yang kita berikan kepadanya semata-mata kerana mengharapkan
keredhaan ALLAH.
ALLAH memberikan kita fitrah itu lalu niatkan dengan fitrah itu boleh
menghampirkan diri kita kepada ALLAH swt. Cintailah sesiapa pun, tetapi
pastikan cinta itu dapat memudahkan kita mencintai ALLAH. Sehubungan
dengan itu, cinta antara lelaki dan perempuan mestilah diniatkan untuk
ALLAH!. Soalnya bagaimana?
Iringilah dengan niat untuk berkahwin kerana berkahwin itu lebih memudahkan
seorang lelaki atau seorang perempuan menyempurnakan agamanya.
Sabda Rasulullah saw,
"Apabila seseorang itu berkahwin, sempurnalah separuh agamanya, tinggal lagi
separuh untuk disempurnakannya" .
Semoga perkahwinan yang dibina adalah semata-mata kerana ALLAH, dgn tujuan
untuk membina rumahtangga muslim, melahirkan keturunan soleh dan solehah,
keluarga yang sanggup memikul amanah & dapat melaksanakan segala hukum dan
perintah ALLAH swt. Semoga dengan perkahwinan itu juga akan dapat menjaga
pandangannya, kehormatan dirinya serta hati dan juga perasaannya supaya
sentiasa tunduk dan takut pada ALLAH swt, di samping dapat beribadat dan
bertaqwa kepada ALLAH SWT.
Oleh itu, usahlah bercinta sekadar untuk bersuka-suka. Lebih buruk lagi janganlah ada niat-niat yang jahat dalam
bercinta sama ada didorong oleh hasutan nafsu atau bujukan syaitan. Jika
tidak ada niat untuk berkahwin, cinta sudah pasti bukan kerana ALLAH.
Hakikatnya cinta itu adalah cinta terlarang yang akan membawa kemusnahan
pada sebelah pihak atau kedua-duanya sekali. Cinta jenis ini seburuk namanya
- Cinta Monyet!
Hendaklah dipastikan semasa menjalin hubungan cinta tidak ada hukum ALLAH
yang dilanggar. Antaranya, tidak ada pergaulan bebas, tidak ada pendedahan
aurat, tidak ada pengabaian perkara asas seperti meninggalkan
sembahyang, puasa dan lain-lain. Hubungan cinta jangan sampai terjerumus
dalam perkara yang melalaikan dan merugikan. Maka, remaja tidak seharusnya
mengeluh," Cinta apa namanya ini jika tiada dating, tiada perbualan telefon
maraton..atau bahasa remajanya 'bergayut', tiada surat cinta, tiada sentuhan
tangan, tanpa kerlingan dan senyuman?
Yakinlah, tidak ada keindahan dengan melanggar peraturan Tuhan. Putus cinta
dan kecewa bercinta yang begitu dominan dalam kehidupan remaja adalah
disebabkan racun-racun cinta yang disangka baja ini. Justeru banyaklah cinta
yang gagal disambung di alam perkahwinan dan lebih banyak yang putus tanpa
sempat menempuh perkahwinan.
Allah swt Maha Mengetahui dan Maha Menyayangi. Segala peraturanNya dibuat
dengan rasa cinta terhadap hambaNYA. Cinta suci mampu tumbuh tanpa semua
itu. Dan cinta itu pasti akan membawa ke gerbang perkahwinan untuk bercinta
lagi dengan seribu keindahannya. Bahkan jika diizinkan oleh takdirNya, cinta
itu akan terus bersambung ke alam akhirat. Suami yang soleh dan isteri yang
solehah akan bercinta lagi di syurga-tempat pertama yang melahirkan cinta!
Ketika itulah FITRAH akan menjadi ANUGERAH!!!

'' Aku mencintaimu kerana agama
yang ada padamu,jika kau
hilangkan agama dalam dirimu,
hilanglah cintaku padamu ''

Kerna AGAMA yang ada pada dirimu...