Saturday, May 21, 2011

~ Coretan Ringkas Kisah Anbiya' (Nabi Idris A.S) ~

Nabi Idris as
Tidak banyak keterangan yang didpti tentang kisah Nabi Idris di dalam Al-Quran mahupun dalam kitab-kitab Tafsir dan kitab-kitab sejarah nabi-nabi.Di dalam Al-Quran hanya terdpt dua ayat tentang Nabi Idris iaitu dalam surah Maryam ayat 56 dan 57:
"Dan ceritakanlah { hai Muhammad kepada mereka , kisah } Idris yang terdpt tersebut di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sgt membenarkan dan seorang nabi. 57 - Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." { Maryam : 56 - 57 }

Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam putera dari Yarid bin Mihla'iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S. dan adalah keturunan pertama yang dikurniai kenabian menjadi Nabi setelah Adam dan Syith.
Nabi Idris menurut sementara riwayat bermukim di Mesir di mana ia berdakwah untuk agama Allah mengajarkan tauhid dan beribadat menyembah Allah serta membeeri beberapa pendoman hidup bagi pengikut-pengikutnya agar menyelamat diri darii seksaan di akhirat dan kehancuran serta kebinasaan di dunia. Ia hidup sampai usia 82 tahun.

Diantara beberapa nasihat dan kata-kata mutiaranya ialah : ~
1 . Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.
2 . Orang yang bahagia ialah orang yang berwaspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.
3 . Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa maka ikhlaskanlah niatmu demikian pula puasa dan solatmu.
4 . Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5 . Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.
6 . Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.
7 . Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.
8 . Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya seorang tidak dpt bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehinya itu.

Dalam hubungan dengan firman Allah bahawa Nabi Idris diangkat kemartabat tinggi Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahawa Nabi Idris wafat tatkala berada di langit keempat dibawa oleh seorang Malaikat Wallahu a'alam bissawab.

~ Level Of Love Based From Al-Quran ~

LEVEL OF LOVE BASED FROM AL-QURAN
www.iluvislam.com
lart_ieha
editor: azzahra_solehah



Menurut hadis Nabi: Orang yang sedang jatuh cinta, cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu).

Sabda Nabi: Orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).

Sabda Nabi juga: ciri dari cinta sejati ada tiga -
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemahuan yang dicintai dibanding kemahuan orang lain/diri sendiri.

Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.

Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.

Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sanggup membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika,
aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.

Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).

8. Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Thursday, May 19, 2011

~ Coretan Ringkas Kisah Anbiya' (Nabi Adam A.S) ~

Nabi Adam as
Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh - tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya,bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat.

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:"Wahai Tuhan kami!Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih,bertahmid,melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman,menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna

.
Iblis Membangkang.

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."


Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:"Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:"Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."

Adam Menghuni Syurga.

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:"Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"

Berkatalah Adam:"Seorang perempuan."Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi."Hawa",jawab Adam."Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.
Adam menjawab:"Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."

Allah berpesan kepada Adam:"Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."

Iblis Mulai Beraksi.

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.

Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:"Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu.Harapan untuk tinggal terus di syurga yang telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah,hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahawa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya,akan dikuasai kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu.Berfirmanlah Allah kepada mereka:"Turunlah kamu ke bumi sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disan sampai waktu yang telah ditentukan."

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali.Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Kisah Adam dalam Al-Quran.

Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A'raaf ayat 11 sehingga 25


Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.

Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia - keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.

Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf.Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.

Wednesday, May 18, 2011

~ Hukum Bacaan Doa Akhir & Awal Tahun ~

Oleh : Ustaz Syed Abdul Kadir al Joofre

Terbaca di beberapa blog dan forum baru-baru ini, memandangkan hampirnya kita memasuki tahun baru Hijrah, berkemundang sekali lagi seruan bahawa bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun merupakan satu bid'ah yang jelas haram di sisi Islam. Benarkan apa yang dihebohkan ini? Kalau benar mengapa saban tahun setiap jabatan agama negeri tidak pernah menghalang sambutan ini? Adakah tok mufti dan semua ustaz yang berada di setiap jabatan agama ni bersekongkol dalam kesesatan? Sama-sama kita kaji..

Biasanya apabila kita tidak mengetahui asas bagi satu masalah, maka kita akan mudah membuat keputusan yang salah. Asas dan sebab bagi satu masalah merupakan kunci bagi kita untuk mendapatkan jawapan bagi masalah tersebut. Di sini kita perlu mengkaji dua masalah. Mengapa dibaca doa akhir dan awal tahun. Seterusnya mengapa pula satu golongan lagi cuba untuk mengharamkan perbuatan ini.

Asas pendapat pertama kita lihat dari sudut amalan para ulamak berkurun lamanya bukan sahaja di nusantara malahan di banyak lagi tempat di dunia, yang mengamalkan berdoa di akhir dan awal tahun. Apakah asas mereka? Jawapannya yang ringkas, bukankah kita semua mengetahui bahawa beredarnya bulan dan tahun ini merupakan tanda kekuasaan Allah? Maka tidak layakkah kita sebagai hamba yang lemah memuji Allah apabila kita memerhatikan kebesaranNya? Seterusnya, bukankah molek kalau kita akhiri akhir tahun kita dengan memohon ampun atas kesalahan kita sepanjang tahun lalu, dan seterusnya memulakan awal tahun baru, dengan berdoa kepada Allah agar tahun yang mendatang dipenuhi rahmah dan maghfirahNya? Doa itu senjata mukmin. Maka gunakanlah senjata ada sebaik mungkin.

Asas pendapat kedua. Bid'ah dholalah (atau kata mereka bid'ah secara mutlak) adalah mengadakan sesuatu yg baru yang tiada asasnya langsung dalam agama. Itu kata kita. Ada di kalangan mereka yang menyalah erti bahawa bid'ah adalah sesuatu urusan agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Namun sangkaan ini amat tersasar dari kebenaran berdasarkan terlalu banyak dalil menunjukkan keharusan perkara dalam agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah seperti menghimpunkan Al-Quran dan azan solat jumaat sebanyak dua kali yang dilakukan oleh Saiyidina Usman. Maka diistilahkan pula oleh Imam Syafie dan para mujtahidin yang lain perkara ini sebagai bid'ah hasanah. Malah diklasifikasikan pula oleh Imam Nawawi bid'ah kepada 5 hukum taklifi yang ada. Mereka kata klasifikasi ini klasifikasi dari sudut bahasa, namun jika kita kaji bid'ah dari segi bahasa bukanlah yang dimaksudkan oleh Imam Syafie dan yg lain, tetapi bid'ah dalam agama.

Apapun yang diistilahkan kita sepakat mengatakan bahawa perkara yang dibaharukan yang tiada asasnya langsung dalam agama hukumnya haram dan bid'ah yang dholalah. Nah, sekarang mereka membuat pula satu kaedah. Jika satu ibadat itu dilakukan pada satu waktu tertentu atau hari tertentu atau bilangan tertentu tanpa ada hadis yang warid dari Rasulullah s.a.w. maka ianya dikira sebagai bid'ah (baca bid'ah dholalah) dan haram. 2 asas inilah yang dipegang menjadikan bacaan doa akhir dan awal tahun sebagai haram.

Maka apa pula komentar bagi kedua-dua hujjah kedua-dua golongan ini ya?

Perbincangan bagi hujjah pendapat yang pertama. Dikatakan bahawa memuji Allah apabila memerhatikan kebesaran-Nya. Benar. Namun cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur itu perlukan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya s.a.w. Bukannya mengikut fikiran kita semata-mata. Adakah berdoa tersebut cukup untuk menghapuskan segala dosa yang berlaku di sepanjang tahun. Kalau begitu mudahla, Buat dosa banyak-banyak. Akhir tahun doa jelah. Lagipun kalau doa ni pun da bid'ah dan berdosa, sebenarnya bukan hapuskan dosa tapi tambahkan dosa lagi.

Jawapan kepada perbincangan ini. Cara kita menunjukkan pujian dan bersyukur adalah diharuskan selagi mana tidak melanggar syara'. Sebanyak mana pun kita bersyukur takkan cukup dengan nikmat yang Allah beri. Lagipun kita bukan bersyukur mengikut fikiran kita semata-mata, tetapi berdasarkan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya jugak kan. Bukankah berdoa ini satu cara yang ditunjukkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukannya kita sambut dgn konsert atau pertunjukkan bunga api.

Berkenaan doa boleh menghapuskan dosa atau tidak tersebut, urusan tersebut diserahkan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang memerintah kita supaya berdoa dan Dialah yang memakbulkan doa dan mengampunkan dosa. Ini merupakan usaha kita yg diperintah oleh-Nya. Hujjah buat dosa banyak2 kemudian berdoa adalah hujah yang dangkal, kerana tiada siapa yang mengetahui selama mana hayatnya. Juga ia seolah-olah mempermain-mainkan mereka yang berdoa setiap hari agar diampunkan oleh Allah. Mengapa tidak tunggu tua sahaja baru berdoa. waktu muda buat dosalah banyak2. Hujah yang amat cetek dan tidak perlu dihiraukan, tetapi perlu dijawab kerana banyak antara mereka yang cetek ilmu, tapi mengaku berilmu. Semua kita sepakat bahawa melakukan perkara yang dilarang oleh syarak secara pasti dan mesti adalah haram. Jadi mengapa perlu dipersoalkan perkara begini. Tetapi kita sebagai manusia yang tidak maksum pasti tidak akan lari dari kesalahan. Jadi kita perlu dari masa ke semasa meminta pengampunan dari Allah s.w.t. Niat melakukan dosa dengan harapan berdoa di waktu lain agar diampunkan adalah niat yang jelas salah dan terlarang.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua pula.

Perbincangan hujjah pendapat yang kedua. Apakah asas-asas yang diiktiraf dalam menentukan hukum dan adakah doa ini tiada asasnya langsung dalam agama? Para ulamak telah berselisih dalam perkara ini, namun mereka sepakat menentukan bahawa Al-Quran, Assunnah, Ijma' dan Qias secara umumnya adalah asas dalam menentukan hukum. (kecuali beberapa ulamak zahiri dan syiah yang menolak terus qias). Mereka pula hanya menganggap Al-Quran dan Assunnah dan ijtihad para mujtahidin berdasarkan dua sumber ini merupakan asas. Walaubagaimanapun kedua-dua masalah ini tidakla jauh bezanya jika difahami dengan betul. Jadi persoalan sekarang adakah di sana asas bagi doa ini dibaca?

Secara ringkasnya asas bagi berdoa secara umumnya adalah ayat-ayat Alquran dan Assunnah yang terlalu banyak menerangkan perintah berdoa tak kira masa dan tempat. Perintah2 ini tidak boleh kita khususkan kepada doa yang warid dalam alquran dan sunnah semata-mata, kerana ia dikira sebagai mengkhususkan sesuatu yg umum tanpa pengkhususnya. Selain itu warid dari Hadis2 dan asar para solihin keharusan berdoa selain dari yg warid mengikut keperluan kita asalkan tidak bercanggah dengan syarak.

Asas seterusnya dalam berdoa ini adalah berdasarkan maslahah (yang juga sumber perundangan hukum islam). Maslahah yang rajihah (yang boleh diguna pakai) dalam perkara ini ditentukan oleh para ulamak terdahulu bukan menurut pemikiran kita semata. Maslahah ini lebih jelas di zaman kita yang mana ramai di kalangan masyarakat kita sudah jauh dari ajaran Islam dan tidak reti berdoa lagi. Malah di tahun baru ini pun mereka tanpa segan silu membuat kemaksiatan. Bukankah molek jika kita menyeru mereka berdoa di waktu begini?

Jadi apabila ada asas-asas yang disebutkan maka kita tidak boleh menyebut amalan berdoa ini sebagai satu perkara bid'ah yang sesat. Malah boleh kita masukkannya di dalam bid'ah hasanah yang disebutkan oleh Imam Syafie.

Mereka juga menyatakan bahawa sesutu ibadat seperti zikir dan doa itu perlu menyamai Rasulullah dari sudut bilangan, masa, hari dan tempat. Sesuatu yang bercanggah dengan salah satu darinya adalah haram. Kita pula menjawab, di manakah dalil kepada penyataan ini? Ulamak terdahulu tidak pernah membuat kaedah sebegini. kaedah yang ada adalah, ibadat tidak menyalahi dari apa yang Rasulullah tunjukkan. Jangan Rasulullah bersolat subuh 2 rakaat kita bersolat 3 rakaat, kerana nak pahala lebih. Itu yang salah. Adapun berdoa dan berzikir di waktu yang tidak warid Rasulullah berzikir pada waktu tersebut adalah tidak diharamkan. Kerana Rasulullah sendiri sentiasa berzikir dan berdoa. Selain itu perintah berzikir berdoa tidak pernah mengkhususkan masa dan tempat. Tiada salahnya jika kita hanya mengaji Al-Quran selepas maghrib setiap hari dan memerintahkan pula anak-anak kita berbuat sedemikian, walaupun tidak warid dalam hadis Rasulullah ada mengkhusukan begitu. Itu kita sepakat bukan. Jadi mengapa kita mengkhususkan pula sebelum maghrib akhir zulhijjah untuk berdoa dikira sebagai sesuatu perbuatan yang haram?

Hujjah mereka seterusnya adalah kebaikan sesuatu perkara adalah berdasarkan al-Quran dan As-sunnah. Maka kita katakan bahawa kebaikan berdoa ini juga adalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yang menyuruh kita berdoa tanpa mengira waktu dan tidak pernah pula melarang kita berdoa di waktu2 tertentu. Maka kita simpulkan bahawa berdoa awal dan akhir tahun ini merupakan perkara yang baik menurut syara'. Bid'ah mustahabbah kata Imam Nawawi.

Kesimpulan:

Doa di awal dan akhir tahun merupakan sesuatu perkara yang baik dan harus dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat, namun ia bukanlah perkara yang wajib. Anda hendak berdoa, berdoalah di setiap waktu dan ketika. Setiap waktu dan ketika itu termasuk juga padanya doa di awal dan akhir tahun. Berdoalah semoga dosa kita di tahun yg lalu diampunkan dan amalan kita diterima. Jua berdoalah moga di tahun baru ini kita dibantu melawan syaitan, nafsu yang menyeru kejahatan serta dibantu melakukan amal ibadat sebanyak mungkin.

Wallahu A'lam

Wasallallahu 'Ala Saiyidina Muhammad Wa'ala Alihi Wasohbihi Ajma'in, Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin

~ Antara Doktor & Mat Rempit ~

Antara Doktor dan Mat Rempit
www.iLuvislam.com
petra
editor : kasihsayang


Sebagai seorang doktor yang tugasnya menyelamatkan nyawa manusia,tentulah saya merasa bangga dengan profesion saya ini. Sememangnya inilah cita-cita sebenar saya selama ini. Etika dan sikap profesionalisme sering saya amalkan. Apatah lagi saya juga seorang pensyarah di Pusat Pengajian Perubatan di salah sebuah universiti terkemuka. Saya sering menanamkan dan menekankan aspek insaniah dalam diri bakal-bakal doctor yang merupakan pelajar saya.

Suatu hari yang ditakdirkan Allah, saya di ajar tentang suatu nilai yang saya terlupa oleh seorang mat rempit.

Saya menoleh jam loceng saya. "Ah….baru 3am dan saya baru terlena hanya 2jam sahaja." Tapi,apakan daya kerana tugas,saya terus mencuci muka dan terus menggapai kunci kereta saya. Inilah rutin seorang doltor yang kita kenali sebagai `on call`.

Setelah memecut kenderaan saya,akhirnya saya tiba di bilik kecemasan. Ada satu kes kemalangan. Seorang penunggang cedera parah dan pemboncengnya meninggal dunia di tempat kejadian.

"Tolong doktor..Tolong selamatkan kawan saya," rayu seorang lelaki muda berseluar jean yang koyak dibahagian lututnya. Inilah trend pakaian mat rempit. Setelah 4 jam dibilik pembedahan,mangsa berjaya diselamatkan dan kaki kanannya terpaksa dipotong. Entah mengapa hari itu,terlintas bisikan syaitan dalam hati saya yang menyatakan`you deserve to get it`. Astaghfirualallahal azim, sebagai seorang doktor,saya tidak harus meletakkan prejudis saya sebagai prioriti dalam merawat pesakit. Melihat pesakit saya dari sudut siapa dia sebenarnya adalah salah. Hal ini kerana, dalam merawat dan meyelamatkan pesakit,nyawa setiap manusia begitu bernilai walaupun pada pandangan kita atau sesiapa,dia bukanlah apa-apa.

Keesokan harinya,saya pulang dari hospital agak lewat malam. Kepenatan benar-benar menyebabkan saya tidak sabar untuk tiba di rumah.

"Ah….lampu merah pula!!" Maka saya terus menekan pedal brek dan menunggu giliran sambil mata saya tertumpu pada suatu peristiwa yang menarik. Saya melihat seorang lelaki yang koyak jeannya dilutut menunggang dengan laju melanggar lampu merah tanpa rasa bersalah. Dalam hati saya berdetik "sah mat rempit lagi. Tak ada kerja lain ke selain menyusahkan orang lain." Tiba-tiba saya melihat pemuda itu berhenti,menongkat motornya dan berjalan kedepan.

Saya benar-benar malu pada diri saya sendiri melihat pemuda itu mengambil bangkai kucing yang saya kira baru saja dilanggar petang tadi,mengalihkannya ke tepi jalan agar tidak dipijak hina oleh kenderaan lain.

"Allahuakbar."

Saya benar-benar tersedak dengan bisikan hati kecil sendiri. Saya rasakan diri ini sangant mulia apabila menyelamatkan nyawa manusia,tapi tidak terlintas dan tidak sanggup membela bangkai binatang itu padahal ia juga suatu nyawa yang harus dihargai dan dimuliakan. Sedangkan dia seorang mat rempit yang mungkin tidak menghargai nyawanya sendiri boleh meletakkan nilai harga nyawa seekor binatang pada aras yang tinggi. Sesungguhnya Tuhan sedang mengajar saya sesuatu.

Sesungguhnya saya telah belajar sesuatu dari seorang mat rempit. Kemuliaan seseorang itu bukan terletak pada berapa besar dan tingginya jasa dan sumbangan pada sesuatu tetapi dinilai dari berapa besar seseorang itu mengerti makna kewujudan sesuatu dan menghargai.

Ini bukan kisah yang memberi pengajaran bahawa kita juga boleh menjadi mulia walaupun seorang mat rempit,lantas menanam cita-cita untuk menjadi kaki rempit. Namun cerita ini membawa pengajaran bahawa kita tidak boleh terlalu berbangga dengan diri sendiri dan membiarkan prejudis membezakan diri kita dengan golongan lain. Sikap prejudis akan mengurangkan etika dan meruntuhkan sikap profesinalisme yang ada dalam diri kita..

Tuesday, May 17, 2011

~ Ada Waktu Kita Sedih ~

Wan Nurul Nadiah

Langit Ilahi Rotating Header Image
Motivasi: Ada waktu kita sedih.
Oct 17th, 2010
by Hilal Asyraf.

Ada waktu kita sedih. Sedih itu, sedih ini. Sedih dengan pelbagai perkara. Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang sedih dengan rupa parasnya, sedih dengan kejadiannya, sedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.

Ada waktu, memang manusia akan merasakan kesedihan.

Kenapa saya cakap begini?

Entah.


Orang mukmin takkan bersedih lama.

Percayakah anda bahawa orang mukmin tidak akan bersedih lama?

Saya meyakini hal itu. Memanjang-manjangkan kesedihan, bukanlah sebahagian dari ciri seorang mukmin. Hatta Rasulullah SAW sendiri, bersedih hanya seketika. Baik ketika kematian anak-anaknya, mahupun kematian sahabat-sahabat baginda yang tercinta. Bahkan kesedihan itu tidak termuncul saat baginda menderita sakit diseksa, lapar, perang dan sebagainya.

Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan.

Perasankah kita, apabila kita memanjang-manjangkan kesedihan, apakah sebenarnya yang telah ‘kita hilangkan’ dalam kehidupan kita?

Allah SWT.

Ya. Seakan-akan Allah itu tidak wujud, dan membiarkan kita.

Seakan-akan Allah itulah Yang Zalim, dan Dialah yang sengaja membuatkan kita bersedih.

Benarkah?

Apakah bicara Allah berkenaan kesedihan?

Saya suka dengan ayat-ayat ini:

“Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 38.

” Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. “ Surah Al-Baqarah ayat 62.

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 112.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 262.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-Baqarah ayat 277.

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” Surah Ali Imran ayat 120.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Surah Ali Imran ayat 139.

“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah. Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” Surah Al-Maidah ayat 41.

“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” Surah Al-Maidah ayat 68.

“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Surah Al-An’am ayat 48.

“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah? (Kepada orang mukmin itu dikatakan): Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” Surah Al-A’raf ayat 49.

Saya tidak tahu apa perasaan kalian apabila membaca semua terjemahan ini.

Tetapi saya, rasa lega.

Rasa tenang.

Rasa damai.

Bila bersama dengan Allah, ikut apa yang Rasulullah ajar, hidup bersungguh-sungguh mengamalkan Islam, ajak manusia lain buat kebaikan, itu semua hakikatnya memadamkan kekhuatiran, kesunyian, kesedihan, ketakutan dan sebagainya.

Betapa selepas membaca ayat-ayat tadi, jelas kepada kita bahawa, kita tidak sepatutnya menjadi manusia yang memanjang-manjangkan kesedihan mereka, terus jatuh dan jatuh ke dalam lohong hitam perasaan mereka.

Kita ada Allah.

Dan kehidupan kita bersamaNya memadamkan segala kenegatifan.

Penutup: Kesedihan adalah keperluan. Tetapi dosnya tidak boleh berlebihan.

Sedih memang baik. Sekali sekala ia melembutkan hati. Tanda jiwa yang sensitif. Tanda hati yang peka.

Tetapi merendam roh kita ke dalam kesedihan terlalu lama akan mereputkannya.

Apakah alasan untuk memanjangkan kesedihan?

Kesedihan tidak akan pernah menjadi penyelesaian kepada sesuatu masalah.

Maka perhatikanlah masalah, bergerak menyelesaikannya.

Jika masalah itu bukan datang dengan penyelesaian, sebagai contoh: Kematian rakan karib, murabbi tercinta, ibu bapa tersayang dan sebagainya, hendaklah tabah dan melangkahlah memandang apa yang masih ada pada kita.

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama.

Kerana dia ada Allah di sisinya.

Dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya.

~ Tanda-tanda Kejujuran Orang Yang Bertaubat ~

Sebatas mengucapkan taubat bukanlah bukti kejujuran melakukan taubat, selama orang yang bertaubat tidak menunjukkan tanda-tanda yang menjadi bukti nyata taubat. Di antara tanda-tanda yang menunjukkan kejujuran orang yang bertaubat adalah:

1. Meninggalkan dosa dan menggantinya dengan ketaatan. Ini adalah bukti kepekaan hati, penyesalan terhadap dosa, dan keinginan untuk bertaubat.

2. Berkeinginan untuk meninggalkan dosa masa lalu dan memperbaiki yang akan datang. Jika pada masa lalu sering meninggalkan ibadah, berbuat dzalim, melakukan kesalahan yang tidak menyebabkan denda, maka hendaknya hamba bersedih karena dia telah melakukan itu semua. Ini adalah bukti pengagungan Allah dalam hati, ketakutan yang sangat akan murka-Nya, pengharapan terhadap ridha-Nya, dan keinginan untuk meraih surga-Nya.

3. Bumi baginya terasa sempit sebagaimana sempitnya bumi bagi Ka’ab bin Malik dan kedua sahabatnya, sehingga dia akan merasa sedih dan menangis yang menghindarkannya dari sendau gurau dan tertawa.

4. Hendaknya keadaan setelah taubat lebih baik dari sebelumnya. Allah berfirman :

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Baqarah : 37)

5. Hendaknya dia tidak merasa aman dengan tipuan (makr) Allah. Allah berfirman :

"Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena, sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)." (Q.S. al-Ma‘ârij : 27-28)

Dia akan disertai rasa takut selama hidupnya dan akan terus dalam keadaan seperti itu hingga mendengar suara malaikat yang akan mencabut nyawanya, sebagaimana disebutkan dalam surat Fushshilat ayat 30:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga (jannah) yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (Q.S. Fushshilat : 30)

6. Hamba merasa sakit dan menyesal terhadap dosa yang pernah dilakukannya, dan takut akan akibat yang buruk.

7. Hamba selalu mengingat akan cepatnya bertemu dengan Tuhannya, pada setiap saat dia menanti tibanya ajal. Dan, sesungguhnya ajal itu lebih dekat dengannya daripada tali sepatunya. Rasulullah saw. bersabda:

"Surga itu lebih dekat dengan salah satu di antara kalian daripada tali sepatunya, demikian juga dengan neraka." (HR. Bukhari)

8. Di antara tanda paling kuat kejujuran hamba dalam bertaubat adalah cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta orang-orang yang beriman, dan melakukan tindakan yang menunjang cinta ini.

mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertobat, aaaamiiiiinnnnn.......